LANGIT7.ID- Di sebuah ruangan perpustakaan di Baku, Azerbaijan, lembaran naskah kuno berusia delapan abad tersimpan di balik kaca berlapis. Huruf-huruf Persia menari di atas kertas usang, dihiasi iluminasi emas dan biru laut. Di halaman depan, tertulis judul
Makhzan al-Asrar—Treasury of Mysteries. Inilah karya pembuka dari penyair besar abad ke-12, Nizami Ganjavi, yang di tanah kelahirannya dipuja sebagai “penyair rakyat”, sementara di Barat dikenal sebagai arsitek puisi naratif dunia Islam.
Nizami lahir sekitar tahun 1141 di kota Ganja (kini bagian dari Azerbaijan). Ia hidup pada masa perpecahan politik di bawah dinasti Seljuk, ketika wilayah Persia hingga Kaukasus terbelah dalam perebutan kekuasaan. Justru dalam pusaran itu, Nizami menulis dengan penuh renungan. “Ia bukan penyair istana semata, tapi seorang filsuf yang menaruh kegelisahan etis ke dalam bait-bait panjang,” tulis Julie Scott Meisami dalam Medieval Persian Court Poetry (1987).
Nizami menolak hanya menjadi penghibur sultan. Ia memilih berdiri di pinggir lingkaran kekuasaan, menulis karya yang melampaui zamannya.
Makhzan al-Asrar, yang ia rampungkan sekitar 1163, menjadi pintu masuk pada mahakaryanya: Khamsa atau Pentalogi—lima puisi epik yang kelak menginspirasi penyair dunia, dari Jalaluddin Rumi hingga Goethe di Jerman.
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami Harta Karun MisteriMakhzan al-Asrar bukan sekadar kumpulan sajak religius. Nizami menganyam kisah-kisah moral, satir sosial, dan perenungan filosofis. Ia menyinggung ketidakadilan penguasa, keserakahan pejabat, hingga nasib rakyat jelata. Mengutip Peter J. Chelkowski dalam
Mirror of the Invisible World (1975), “Nizami menulis dengan gaya yang penuh alegori: ia menegur sultan, tapi lewat kisah simbolik yang membuatnya tak mudah disensor.”
Karya ini terdiri dari 20 cerita moral. Salah satunya menggambarkan penguasa yang menuntut pujian dari rakyat, padahal ia hidup dari keringat mereka. Nada satir itu terdengar abadi: sindiran pada kekuasaan yang lupa diri.
Tak berhenti di tanah Persia, karya Nizami menyeberang ke Anatolia, Asia Tengah, hingga India Mughal. Jalaluddin Rumi menyebutnya sebagai “ustad” dalam puisi naratif. Goethe, dalam surat-suratnya, menyinggung Khamsa sebagai inspirasi dalam pencarian Weltliteratur—sastra dunia.
Di dunia Islam sendiri,
Makhzan al-Asrar sering dipakai sebagai teks pengajaran etika politik dan spiritual. Abbas Amanat dalam
Iran: A Modern History (2017) menyebut Nizami sebagai “arsitek etika sastra Persia” yang mampu mengawinkan sufisme, filsafat, dan kritik sosial.
Baca juga: Rindu dalam Lantunan Selawat: Maulid Nabi di Majelis Sufi Kontroversi Milik SiapaSeperti banyak tokoh klasik, Nizami juga diperebutkan. Iran menyebutnya penyair Persia, Azerbaijan menegaskan ia lahir di tanah Ganja, sementara Tajikistan dan Kaukasus pun mengklaimnya. Debat itu bukan hanya perkara asal-usul, tapi juga soal legitimasi budaya. “Nizami adalah figur transnasional, milik dunia Islam dan kemanusiaan,” kata ahli filologi J.T.P. de Bruijn dalam Persian Sufi Poetry (1997).
Membaca Makhzan al-Asrar di abad 21 terasa ironis. Kisah penguasa yang menindas rakyat, pejabat yang pura-pura sederhana, atau ulama yang bersekutu dengan kekuasaan—semua masih relevan. “Kebesaran Nizami adalah kemampuannya menulis kritik sosial yang tidak lekang oleh waktu,” tulis Hamid Dabashi dalam The World of Persian Literary Humanism (2012).
Di kampus-kampus Iran hingga Azerbaijan, bait-bait Nizami masih dikutip mahasiswa. Di Indonesia, sebagian puisi sufistiknya masuk lewat terjemahan Melayu klasik. Di media sosial, bahkan muncul kutipan bergaya meme: “Negara adalah milik rakyat, bukan rakyat milik negara,” seolah menyambung suara satir Nizami dari abad ke-12 ke abad ke-21.
Baca juga: Gelombang yang Tak Pernah Padam: Sufisme dan Tantangan Zaman Nizami bukan hanya penyair yang menulis indah. Ia adalah pengingat bahwa sastra bisa menjadi cermin kekuasaan, medium protes, dan jalan menuju kebijaksanaan. Treasury of Mysteries adalah harta karun—bukan sekadar misteri, melainkan juga keberanian seorang penyair menegur penguasa dengan senjata kata.
“Bait-baitnya adalah cermin. Jika penguasa berani bercermin, ia akan menemukan rakyat di baliknya,” tulis Nizami dalam salah satu puisinya.
(mif)