LANGIT7.ID-Di sebuah ruangan sederhana di Pekalongan, lampu-lampu minyak menyala redup. Bau gaharu bercampur harum bunga mawar memenuhi udara. Malam itu, lantunan qasidah “Ya Nabi Salam Alaika” menggema, mengiringi suara ratusan jamaah yang duduk bersila. Di hadapan mereka, kitab Simthud Durar karya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi terbuka. Sang pembaca melagukannya dengan penuh penghayatan, disambut gumaman “Allah… Allah…” dari hadirin.
Inilah salah satu wajah Maulid Nabi ala tarekat sufi: sebuah ritual yang memadukan syair, musik, dan spiritualitas, yang oleh sebagian kalangan puritan dituding sebagai bid’ah. Tetapi bagi mereka yang berkumpul malam itu, Maulid adalah zikir kolektif yang menyalakan cinta kepada Rasulullah.
Maulid Nabi tidak lahir di ruang hampa. Marion Holmes Katz dalam bukunya
The Birth of the Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam (Routledge, 2007) mencatat bahwa tradisi Maulid berkembang pada abad ke-12 di Mosul dan kemudian menyebar ke Mesir, Syam, dan Hijaz. Ia mula-mula dipelopori oleh dinasti Fatimiyah di Kairo, kemudian diadopsi oleh kaum Sunni pada masa Salahuddin al-Ayyubi sebagai sarana memperkuat identitas umat.
Para sufi menjadi motor penggerak penyebaran Maulid. “Majelis Maulid adalah bagian dari budaya tarekat. Ia menjadi sarana pengajaran ruhani dan perayaan cinta,” tulis Samer Akkach dalam
Islam and the Architectural Order (Routledge, 2005). Ritual ini masuk ke Nusantara melalui para habaib dan ulama tarekat, lalu bertransformasi menjadi perayaan rakyat yang meriah.
Baca juga: Siapa Bilang Tak Ada Perayaan Maulid Nabi di Arab Saudi? Estetika Zikir: Musik dan Qasidah sebagai Medium CintaBagi kaum sufi, Maulid bukan sekadar memperingati tanggal lahir Nabi. Ia adalah momentum untuk
tawassul—mendekatkan diri kepada Allah dengan mengingat orang yang paling dicintai-Nya. Dalam kitab
Husn al-Maqsid fi Amal al-Maulid, Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) menegaskan bahwa Maulid adalah amal kebaikan jika diisi dengan bacaan Al-Qur’an, puji-pujian, dan sedekah.
Musik religius menjadi bagian integral dalam ritual ini. Qasidah Barzanji, Burdah, dan Simthud Durar dilantunkan dengan irama yang menggetarkan hati. Al-Ghazali, dalam
Ihya’ Ulumuddin, membolehkan musik dan nyanyian selama mengarah pada penguatan iman dan bukan kemaksiatan. “Nyanyian yang membangkitkan cinta kepada Allah adalah mubah, bahkan dianjurkan,” tulisnya.
Di balik syair dan doa, Maulid menyimpan kontroversi. Kaum Salafi-Wahabi menolaknya dengan dalih bid’ah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dalam
Kitab al-Tauhid, mengharamkan segala bentuk ritual yang tidak pernah dicontohkan Nabi. Pandangan ini diteruskan oleh ulama Saudi kontemporer seperti Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.
Sebaliknya, para ulama sufi berargumen bahwa Maulid adalah bentuk syukur dan
mahabbah (cinta) yang dibenarkan syariat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam
Al-Hawi lil Fatawa menyebut Maulid sebagai “bid’ah yang baik” karena mengingatkan umat pada keagungan Nabi. Imam as-Suyuthi bahkan menulis risalah khusus untuk membelanya.
Baca juga: Sejarah Panjang Maulid Nabi: Antara Syariat dan Tradisi Ritual dan Politik SimbolikMaulid di majelis sufi bukan hanya ibadah, tetapi juga politik simbolik. Ia menandai identitas Ahlussunnah wal Jamaah yang ramah terhadap budaya. Di Indonesia, perayaan Maulid oleh habaib menjadi penanda otoritas moral sekaligus perekat komunitas. Di Hadramaut, Yaman, ribuan orang tumpah ruah dalam
Haul Habib Ali al-Habsyi, yang melestarikan tradisi Maulid akbar setiap tahun.
Menurut Noora Kamel dalam artikelnya
The Contested Mawlid un-Nabi (Journal of Islamic Studies, 2016), Maulid adalah “arena tarik-menarik antara kesalehan populer dan proyek puritanisme.” Di satu sisi, negara-negara seperti Arab Saudi melarangnya. Di sisi lain, komunitas sufi mempertahankannya sebagai bagian dari spiritualitas Islam.
Kontroversi tak memadamkan pesona Maulid. Setiap tahun, jutaan muslim dari Maroko hingga Indonesia masih berkumpul, melantunkan selawat dengan air mata. Dalam dunia yang kian keras, Maulid menjadi ruang teduh untuk merayakan cinta—bukan sekadar kepada sosok Nabi, tetapi juga kepada nilai rahmat yang dibawanya.
“Jika cinta kepada Rasul adalah iman, maka mengungkapkannya adalah ibadah,” kata Habib Umar bin Hafidz dalam sebuah ceramahnya di Tarim. Kalimat ini mungkin merangkum alasan mengapa para sufi, dari Baghdad hingga Betawi, tak pernah lelah menyanyikan rindu mereka kepada sang Nabi.
Baca juga: Jutaan Rakyat Yaman Tumpah Ruah di Jalan Peringati Maulid Nabi Muhammad(mif)