LANGIT7.ID-Sorak takbir dan lantunan selawat terdengar meriah di berbagai sudut Indonesia setiap bulan Rabiul Awal. Namun, tak banyak yang tahu bahwa tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bukanlah praktik yang langsung hadir sejak masa Rasulullah hidup. Ia memiliki akar sejarah panjang, yang menyeberangi dinasti, wilayah, dan bahkan kepentingan politik.
Sejarawan Ibn Khalikan dalam
Wafayāt al-A’yān menyebut bahwa perayaan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Dinasti Fathimiyah di Mesir pada abad ke-4 Hijriyah (sekitar abad ke-10 Masehi). Mereka dikenal sebagai penguasa Syiah Ismailiyah yang memanfaatkan peringatan ini sebagai media penguatan legitimasi politik dan spiritual. Bahkan, Fathimiyah tak hanya memperingati kelahiran Nabi, tetapi juga hari kelahiran para imam Ahlul Bait.
“Maulid pada awalnya bernuansa politik,” tulis Abdul Hadi dalam Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Pustaka Ilmu, 2018). Menurutnya, Fathimiyah menggunakan Maulid untuk mengukuhkan klaim keturunan langsung dari Nabi.
Baca juga: Memahami Agama dalam Konteks Modern: Pelajaran dari Peringatan Maulid Nabi Oleh KH Faiz Syukron Makmun Transformasi di Era Ayyubiyah dan AbbasiyahTradisi ini sempat meredup setelah Fathimiyah digulingkan. Namun, di masa Dinasti Ayyubiyah, Sultan Al-Malik Al-Muzhaffar kembali menghidupkan peringatan Maulid Nabi di Irak. Menurut catatan Ibn Katsir dalam
Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Sultan Al-Muzhaffar memerintahkan perayaan besar dengan jamuan makanan dan lantunan pujian kepada Nabi. Di sinilah Maulid bergeser: dari sekadar seremoni politik menjadi tradisi keagamaan bernuansa spiritual.
Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani, ulama besar abad ke-15, bahkan menilai peringatan Maulid sebagai bid’ah hasanah—inovasi yang baik—selama diisi dengan dzikir, selawat, dan pembacaan sirah Nabi (lihat Al-Hawi lil Fatawa karya Jalaluddin As-Suyuthi).
Masuk ke Dunia Islam Timur dan NusantaraPerayaan Maulid Nabi kemudian menyebar ke wilayah Timur, termasuk Anatolia, India, hingga Nusantara, melalui jalur perdagangan dan dakwah sufi. Peneliti Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat mencatat bahwa tradisi Maulid di Indonesia erat kaitannya dengan tarekat dan dakwah Walisongo.
Di Jawa, peringatan ini dikenal dengan istilah Muludan, yang dikemas bersama tradisi lokal seperti sekaten—sebuah pesta rakyat yang memadukan dakwah dengan budaya. “Sekaten menjadi strategi kultural Islam untuk mendekatkan ajaran agama kepada masyarakat Jawa,” tulis Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo (LKiS, 2012).
Sejak awal, perayaan Maulid tidak lepas dari perdebatan. Ulama seperti Ibn Taimiyyah dalam Iqtidā’ Shirāth al-Mustaqīm mengkritik Maulid sebagai bentuk bid’ah yang tak dilakukan Nabi. Namun, mayoritas ulama, termasuk Imam Nawawi dan Jalaluddin As-Suyuthi, menilai peringatan ini sah selama bertujuan menumbuhkan cinta kepada Rasulullah.
Penelitian kontemporer oleh Muhammad Zuhri dalam Tradisi Maulid di Dunia Islam (2015) menunjukkan bahwa Maulid menjadi media dakwah yang efektif sekaligus sarana konsolidasi sosial. “Di banyak negara Muslim, Maulid lebih dari sekadar ritual—ia simbol identitas kolektif,” tulisnya.
Baca juga: Jutaan Rakyat Yaman Tumpah Ruah di Jalan Peringati Maulid Nabi Muhammad Era Modern dan Digitalisasi MaulidKini, peringatan Maulid Nabi tak hanya berlangsung di masjid atau alun-alun, tapi juga merambah ruang digital. Di YouTube, ceramah Maulid Habib Jindan atau Habib Syech ditonton jutaan kali. Bahkan, tagar #MaulidNabi kerap trending di Twitter. Tradisi ini berevolusi, namun esensinya tetap: mengenang dan meneladani Rasulullah SAW.
“Perayaan Maulid adalah bukti bahwa cinta kepada Nabi melintasi zaman dan ruang,” kata Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW (Lentera Hati, 2011).
(mif)