Arab Saudi dan Prancis Satukan Dunia Dukung Negara Palestina, Israel-AS Kian Terpojok
Tim langit 7
Senin, 22 September 2025 - 18:27 WIB
Arab Saudi dan Prancis Satukan Dunia Dukung Negara Palestina, Israel-AS Kian Terpojok
LANGIT7.ID-Jakarta;Arab Saudi dan Prancis bakal menggelar pertemuan besar dengan puluhan pemimpin dunia pada Senin untuk menggalang dukungan terhadap solusi dua negara. Beberapa negara diperkirakan akan secara resmi mengakui negara Palestina—langkah yang kemungkinan memicu reaksi keras dari Israel dan Amerika Serikat.
Israel dan AS sudah memastikan akan memboikot acara itu. “Kami tidak menganggap ini langkah yang membantu. Justru seperti memberi hadiah untuk terorisme,” ujar Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon.
Pemerintah Israel bahkan mempertimbangkan opsi mencaplok sebagian wilayah Tepi Barat sebagai respons, termasuk kemungkinan menjatuhkan sanksi khusus terhadap Prancis. Namun langkah pencaplokan berisiko membuat Israel kehilangan dukungan dari negara kunci seperti Uni Emirat Arab. UEA, yang menormalisasi hubungan dengan Israel lewat Abraham Accords tahun 2020, menegaskan bahwa aneksasi adalah garis merah. “Itu akan merusak inti dari apa yang ingin dicapai Abraham Accords,” kata Lana Nusseibeh, pejabat senior Kementerian Luar Negeri UEA, kepada BBC.
Baca juga: Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal Akui Palestina, Israel Marah Besar
AS juga mengingatkan bakal ada konsekuensi bagi negara yang mengambil sikap melawan Israel, termasuk Prancis. Presiden Emmanuel Macron sendiri menjadi tuan rumah pertemuan di New York, yang digelar tepat sebelum Sidang Majelis Umum PBB pekan ini.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah serangan darat Israel ke Kota Gaza dan meningkatnya kekerasan di Tepi Barat. Banyak pihak menilai ada urgensi bertindak sekarang sebelum ide dua negara benar-benar hilang dari meja. Sebelumnya, Majelis Umum PBB sudah mengesahkan deklarasi tujuh halaman yang berisi langkah-langkah nyata menuju solusi dua negara, sekaligus mengecam Hamas dan menyerukan kelompok itu untuk menyerah serta melucuti senjata.
Israel dan AS langsung menolak deklarasi itu, menyebutnya sekadar manuver politik. Tapi Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan, “Deklarasi New York bukan janji kosong untuk masa depan, tapi peta jalan yang dimulai dengan prioritas utama: gencatan senjata, pembebasan sandera, dan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.”
Israel dan AS sudah memastikan akan memboikot acara itu. “Kami tidak menganggap ini langkah yang membantu. Justru seperti memberi hadiah untuk terorisme,” ujar Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon.
Pemerintah Israel bahkan mempertimbangkan opsi mencaplok sebagian wilayah Tepi Barat sebagai respons, termasuk kemungkinan menjatuhkan sanksi khusus terhadap Prancis. Namun langkah pencaplokan berisiko membuat Israel kehilangan dukungan dari negara kunci seperti Uni Emirat Arab. UEA, yang menormalisasi hubungan dengan Israel lewat Abraham Accords tahun 2020, menegaskan bahwa aneksasi adalah garis merah. “Itu akan merusak inti dari apa yang ingin dicapai Abraham Accords,” kata Lana Nusseibeh, pejabat senior Kementerian Luar Negeri UEA, kepada BBC.
Baca juga: Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal Akui Palestina, Israel Marah Besar
AS juga mengingatkan bakal ada konsekuensi bagi negara yang mengambil sikap melawan Israel, termasuk Prancis. Presiden Emmanuel Macron sendiri menjadi tuan rumah pertemuan di New York, yang digelar tepat sebelum Sidang Majelis Umum PBB pekan ini.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah serangan darat Israel ke Kota Gaza dan meningkatnya kekerasan di Tepi Barat. Banyak pihak menilai ada urgensi bertindak sekarang sebelum ide dua negara benar-benar hilang dari meja. Sebelumnya, Majelis Umum PBB sudah mengesahkan deklarasi tujuh halaman yang berisi langkah-langkah nyata menuju solusi dua negara, sekaligus mengecam Hamas dan menyerukan kelompok itu untuk menyerah serta melucuti senjata.
Israel dan AS langsung menolak deklarasi itu, menyebutnya sekadar manuver politik. Tapi Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan, “Deklarasi New York bukan janji kosong untuk masa depan, tapi peta jalan yang dimulai dengan prioritas utama: gencatan senjata, pembebasan sandera, dan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.”