home edukasi & pesantren

Menag Nasaruddin Umar Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Moderasi Beragama dengan Australia

Jum'at, 26 September 2025 - 09:53 WIB
Menag Nasaruddin Umar Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Moderasi Beragama dengan Australia
LANGIT7.ID-Jakarta;Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima delegasi dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia di Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Pertemuan ini menjadi ajang diskusi strategis mengenai kerja sama kedua negara, mulai dari pendidikan hingga penguatan peran masyarakat sipil.

Dalam kesempatan tersebut, Menag memberikan apresiasi terhadap sejumlah program hasil kolaborasi Indonesia–Australia. Ia menilai inisiatif seperti INOVASI (The Innovation for Indonesia’s School Children), BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement), AAI (Australia Awards in Indonesia), AIMEP (The Australia-Indonesia Muslim Exchange Program), dan AIYEP (The Australia-Indonesia Youth Exchange Program) memberi kontribusi nyata.

“Laporan yang dijelaskan ini membuat saya berterima kasih karena sejak 2008, sudah ada 40 madrasah yang menjadi bagian dari program BRIDGE. Program ini sangat bermanfaat karena mendekatkan guru, siswa, dan komunitas pendidikan kita dengan dunia internasional, sekaligus memperkuat kemampuan literasi digital dan komunikasi lintas budaya,” ujar Menag dalam keterangannya, Jumat (26/9/2025).

Ia juga menekankan pentingnya akses pendidikan tinggi di Australia bagi pelajar Indonesia. “Secara geografis kita ini bertetangga dekat. Maka sangat wajar bila kita terus mendorong murid-murid kita belajar ke Australia. Australia punya universitas-universitas yang berkualitas tinggi, dan itu bisa memperkuat SDM Indonesia di masa depan,” ungkapnya.

Selain pendidikan, isu moderasi beragama juga menjadi perhatian utama. Menurut Menag, kerja sama lintas negara berperan penting dalam menekan radikalisme. “Menurut saya, semakin dekat seseorang dengan agamanya maka semakin dekat dia dengan toleransi. Sayangnya, tidak semua orang memahami ini, sehingga muncul radikalisme. Program-program yang digagas Australia, termasuk kerja sama dengan civil society organisation untuk deradikalisasi di sekolah dan penjara, serta pelatihan untuk pemimpin agama, sangat membantu kami dalam menghadapi tantangan ini,” jelas Menag.

Menag turut menyoroti kesetaraan gender sebagai agenda penting. Ia menilai pengalaman kerja sama sebelumnya dapat diperluas. “Kita butuh kolaborasi lebih jauh dalam isu gender equality. Program kursus singkat tentang leadership development for senior multifaith women leaders yang melibatkan Deakin University pada 2018, 2019, dan 2023 adalah contoh baik yang bisa terus kita kembangkan,” tutur Menag.

Tidak hanya terbatas pada program yang telah berjalan, Kemenag juga membuka peluang kolaborasi baru. “Kami tertarik untuk bekerja sama dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi. Bahkan penyusunan buku rujukan berdasarkan kurikulum tersebut bisa menjadi program kolaborasi baru kita. Dengan kurikulum ini, kita ingin membangun generasi muda yang kuat spiritualitasnya, mencintai kehidupan, dan memiliki kesadaran ekologis,” papar Menag.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya