Pra-Islam: Gurun yang Dilupakan, Jazirah yang Menyiapkan Sejarah
Miftah yusufpati
Rabu, 01 Oktober 2025 - 05:15 WIB
Di antara dentum Romawi dan Persia, jazirah Arab seolah sunyi. Gersang tanpa sungai, hanya kafilah dan oasis. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di abad keenam, dua raksasa sedang berhadap-hadapan. Romawi di Barat dengan Kristen sebagai panjinya. Persia di Timur dengan Majusi sebagai nafasnya. Dua kekuatan itu saling dorong, saling serang, dan sama-sama haus ekspansi.
Namun, ada satu wilayah yang luput dari sengketa: jazirah Arab. Sebuah semenanjung kering yang panjangnya lebih dari seribu kilometer, nyaris tanpa sungai, penuh padang pasir, hanya sesekali ditaburi oase kecil di celah-celah batu.
Bagi para penguasa dunia, jazirah itu tak lebih dari gurun tandus. Tak ada kerajaan besar. Tak ada kota megah. Tak ada sungai yang bisa menopang pertanian. Yang ada hanyalah kabilah-kabilah badui yang hidup berpindah, menunggang unta, berpacu mencari padang rumput sementara sebelum pindah lagi.
“Daerah seluas itu sebuah sungai pun tak ada,” catat Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (Pustaka Jaya, 1980). Justru tandusnya tanah, jauhnya jarak, dan kerasnya iklim membuat jazirah Arab terlindungi dari penjajahan dua imperium besar.
Baca juga: Cahaya dari Utara: Ketika Salib Mencapai Jazirah Arab Pra-Islam
Raja-raja Sahara
Ketiadaan daya tarik pertanian membuat orang Arab bertahan hidup dari jalur lain: perdagangan. Jalur kafilah yang melintasi semenanjung itu menjadikan mereka “raja sahara”—penguasa padang pasir, sebagaimana pelaut Eropa kelak menjadi raja laut.
Namun, ada satu wilayah yang luput dari sengketa: jazirah Arab. Sebuah semenanjung kering yang panjangnya lebih dari seribu kilometer, nyaris tanpa sungai, penuh padang pasir, hanya sesekali ditaburi oase kecil di celah-celah batu.
Bagi para penguasa dunia, jazirah itu tak lebih dari gurun tandus. Tak ada kerajaan besar. Tak ada kota megah. Tak ada sungai yang bisa menopang pertanian. Yang ada hanyalah kabilah-kabilah badui yang hidup berpindah, menunggang unta, berpacu mencari padang rumput sementara sebelum pindah lagi.
“Daerah seluas itu sebuah sungai pun tak ada,” catat Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (Pustaka Jaya, 1980). Justru tandusnya tanah, jauhnya jarak, dan kerasnya iklim membuat jazirah Arab terlindungi dari penjajahan dua imperium besar.
Baca juga: Cahaya dari Utara: Ketika Salib Mencapai Jazirah Arab Pra-Islam
Raja-raja Sahara
Ketiadaan daya tarik pertanian membuat orang Arab bertahan hidup dari jalur lain: perdagangan. Jalur kafilah yang melintasi semenanjung itu menjadikan mereka “raja sahara”—penguasa padang pasir, sebagaimana pelaut Eropa kelak menjadi raja laut.