LANGIT7.ID-Mereka datang bukan dengan pedang, tapi dengan kitab dan cinta. Para misionaris dari Damaskus,
Byzantium, hingga Habasyah, menyusup perlahan ke jantung padang pasir Arab. Membawa salib, bukan hanya untuk menaklukkan jiwa, tapi juga sebagai instrumen politik Kekaisaran
Romawi Timur. Jauh sebelum wahyu turun di Gua Hira, agama Nasrani telah menemukan jalannya ke kalbu sebagian orang Badui—dengan biara, mabidz, dan air mata.
Dari biara-biara terpencil di Hauran dan Ghassan, hingga bangunan gereja di Najran, Yaman, dan San’a, warisan kekristenan pra-Islam itu membentuk lanskap kepercayaan yang lebih kompleks dari yang selama ini dibayangkan. Sebagian besar nama mereka hilang, tapi jejaknya tertinggal dalam mozaik sejarah: Mathran Bashri, Fimiyun, Abrahah, dan bahkan para uskup Arab yang ikut duduk dalam Konsili Nicea tahun 325 M.
Dr Abdul Aziz MA dalam bukunya
Chiefdom Madinah menyebutkan, misionaris Damaskus bernama Mathran Bashri menjadi penasihat bagi 20 uskup di kalangan Arab Hauran dan Ghassan. “Mereka membangun biara yang juga berfungsi sebagai tempat istirahat para saudagar,” tulisnya. Dari tempat-tempat inilah mabidz—sejenis wine racikan pendeta—mengalir, menemani diskusi tentang Injil, politik Romawi, dan puisi.
Di tanah tandus, agama tidak tumbuh dari pusat, tapi dari perjumpaan. Dan Romawi tahu betul cara menyemai benih kekuasaan dengan simbol religius. Ketika Ghassan di Syria menjadi kerajaan Arab Kristen yang loyal pada Byzantium, kabilah-kabilah seperti Taqhlib, Iyad, dan Bakar di Irak menyusul. Bahkan di pusat-pusat dagang seperti Taima dan Daumat al-Jandal, salib berdiri berdampingan dengan berhala.
Tapi di Yatsrib, Makkah, dan Thaif—yang kelak jadi pusat Islam—orang Kristen tetap langka. Mereka hanya jejak, bukan gelombang. Di selatanlah Nasrani menemukan pijakan lebih kokoh.
Baca juga: Tahun Gajah: Ketika Ambisi Abrahah Dibalas Wabah Najran dan Air Mata FimiyunLegenda lokal menyebutnya Fimiyun—seorang zuhud yang datang entah dari mana, tapi dakwahnya menyentuh kota Najran di selatan Arab. Ia bukan bangsawan, bukan pula tentara. Tapi doanya mustajab dan lisannya lembut. Ia tidak membawa peta strategi, hanya keyakinan dan kebenaran. Penduduk Najran mendengarnya, dan pelan-pelan mereka masuk Kristen.
Tatkala Habasyah (Abisinia) menyerbu Yaman untuk kedua kalinya pada 525 M, Kristen tak lagi sekadar iman, tapi juga kuasa. Mereka membawa pasukan, gereja, dan politik. Terutama sejak tragedi Ashabul Ukhdud—saat ribuan orang Kristen dibakar hidup-hidup oleh Raja Yahudi Dzu Nuwas di parit api karena menolak murtad. Dunia Kristen geger. Kaisar Byzantium menulis surat kepada Najasyi, raja Habasyah, untuk mengirim ekspedisi pembalasan.
Dan Najasyi mengirim Aryat dan seorang jenderal muda bernama Abrahah.
Abrahah adalah budak yang naik kasta. Sejarawan Bizantium Procopius mencatat dia pernah menjadi pelayan saudagar Romawi di pantai Adulis, Eritrea. Tapi kemudian dia menggulingkan Aryat dan memimpin Yaman dengan ambisi yang meletup. Ia ingin memindahkan poros haji dari Makkah ke selatan. Maka dibangunlah gereja agung di Yaman, disebut "Ka’bah Yaman", untuk menyaingi Kakbah di Makkah. Sebuah proyek kebanggaan imperium Kristen di Laut Merah.
Tapi Abrahah ingin lebih dari sekadar simbol. Ia ingin kekuasaan spiritual. Maka dikirimlah pasukan gajah untuk menghancurkan Kakbah. Misi itu gagal, tapi namanya kekal dalam ingatan Islam sebagai pemimpin pasukan Gajah—
Ashhabul Fil.
Baca juga: Gajah Abrahah Berlutut Berkali-kali saat Memasuki Mekkah Ath-Thabari mencatat, Abrahah adalah jenderal bayaran Najasyi, tapi juga penguasa Arab yang mengerti bahasa padang pasir. Ia tahu bahwa salib harus dibalut air zamzam, jika ingin diterima oleh gurun. Tapi sejarah berkata lain: Islam datang dan memutar arah sejarah sepenuhnya.
Agama Nasrani di Jazirah Arab pra-Islam bukan sekadar cerita minor. Ia adalah lapisan penting dari sejarah religius Arab. Para misionaris, uskup, pendeta, dan para penganut setia, semuanya ikut membentuk lanskap keyakinan yang kelak dihadapi Nabi Muhammad.
Tapi ketika wahyu datang,
palimpsest keyakinan itu dilapisi lembaran baru. Agama-agama sebelumnya tidak serta-merta hilang, tapi digugat ulang. “Tidak ada paksaan dalam agama,” begitu ayat Al-Baqarah berbunyi. Namun yang lama tetap terkikis perlahan. Biara-biara luruh,
mabidz tak lagi mengalir, dan salib dikalahkan oleh cahaya tauhid.
Kini, dari reruntuhan biara di Najran hingga nisan Kristen tua di Yamamah, kita bisa membaca bahwa sejarah spiritual Jazirah Arab tidak hitam-putih. Ia adalah padang pasir yang pernah dilewati salib, sebelum dibasuh oleh wahyu.
(mif)