Kematian mendadak Nabi Muhammad memicu pembatalan operasi militer ke wilayah Syam. Panglima Usamah bin Zaid menarik kembali pasukannya ke Madinah demi menjaga stabilitas keamanan pusat pemerintahan.
Pasca-Haji Perpisahan, stabilitas wilayah selatan membuat fokus militer Nabi Muhammad bergeser penuh ke utara. Pembentukan pasukan khusus di bawah Usamah bin Zaid menjadi benteng penahan ekspansi Bizantium.
Keputusan politik di Mesir, ketegangan elite Arab, dan kelengahan administratif membuka celah. Dari Iskandariah, orang-orang Romawi menulis ke Konstantinopel, memanggil kembali bayang-bayang Bizantium.
Dalam waktu seratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, para penggantinya (khalifah) berhasil membentuk sebuah kekhalifahan yang wilayahnya bahkan melebihi kekuasaan Kekaisaran Romawi.
Kedaulatan Islam meluas sampai mendekati Afganistan dan Cina di sebelah timur, Anatolia dan Laut Kaspia di utara, Tunis dan sekitarnya di Afrika Utara di bagian barat dan kawasan Nubia di selatan.
Kesultanan Ottoman, bermula dari suku Turki Oghuz yang mengungsi ke Asia Kecil, berkembang pesat di bawah kepemimpinan Utsman I. Melalui strategi ekspansi wilayah dan kebijakan toleransi beragama, Ottoman berhasil menguasai berbagai wilayah strategis hingga Eropa, mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan Islam terkemuka.