LANGIT7.ID-Dalam waktu seratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, para penggantinya (khalifah) berhasil membentuk sebuah kekhalifahan yang wilayahnya bahkan melebihi kekuasaan Kekaisaran
Romawi.
"Guncangan yang ditimbulkan terhadap tatanan internasional, khususnya dunia Kristen, sangat besar," tulis
John L. Esposito dalam bukunya berjudul "
The Islamic Threat: Myth or reality?" yang dalam edisi Bahasa Indonesia menjadi "
Ancaman Islam Mitos atau Realitas" (Mizan).
Sulit dipercaya bahwa suku-suku di
Jazirah Arab mampu bersatu dan menaklukkan Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) dan Kekaisaran Persia (Sassanid), serta pada akhir abad tersebut menguasai wilayah yang membentang dari Afrika Timur hingga India.
Keberhasilan ekspansi Arab disebabkan oleh berbagai faktor: melemahnya kekuatan Byzantium dan Persia akibat peperangan berkepanjangan, ketidakpuasan rakyat terhadap penguasa mereka, keterampilan militer para prajurit Badui, serta daya tarik pampasan perang. Namun, faktor utama keberhasilan tersebut adalah terbentuknya negara dan peran Islam dalam menyatukan berbagai suku, serta memberikan pemahaman tentang makna dan tujuan yang lebih besar.
Baca juga: Arti Penting Perang Riddah bagi Sejarah Islam Selanjutnya Islam memberikan dukungan ideologis yang kuat bagi transformasi sosial luar biasa ini. Penaklukan-penaklukan tersebut merupakan gerakan Islam sejati, karena ajaran Islam—yang mencakup aspek keagamaan, sosial, dan politik—menjadi pemicu utama proses integrasi dan keberhasilan ekspansi tersebut.
Keyakinan bahwa penaklukan tersebut merupakan bagian dari gerakan Islam masih dipegang oleh banyak umat Muslim hingga kini, dan menjadi sumber inspirasi serta cita-cita. Di era sekular saat ini, ketika agama cenderung dianggap bukan faktor utama dalam pembangunan sosial-politik, penting untuk mengingat pandangan sejarawan non-Muslim mengenai peran sentral Islam dalam proses ini:
"Bahkan sejarawan sekular pun harus mengakui bahwa Islam adalah faktor penentu dalam ekspansi bangsa Arab. Suku-suku Badui yang sebelumnya terus-menerus berperang dan sangat menjunjung kemerdekaan, tiba-tiba bersatu di bawah kepemimpinan Islam. Hal ini tidak dapat dipahami kecuali dalam konteks Islam. Islamlah yang mempersatukan mereka dan memberi makna kepada perjuangan mereka. Apa pun motif material awal mereka, pada akhirnya mereka menjadi bagian dari suatu gerakan yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan—sebuah gerakan yang tidak mereka ciptakan sendiri, dan yang hanya dapat dijelaskan sebagai campur tangan Ilahi dalam kehidupan manusia."
Baca juga: Distrik Budaya Hira, Destinasi Wisata yang Tawarkan Pengetahuan Budaya dan Sejarah Islam Pada abad-abad berikutnya, Islam terus menyebar ke berbagai penjuru dunia. Ketika pusat kekhalifahan terpecah, kepemimpinan umat Islam diteruskan oleh berbagai kesultanan yang membentang dari Afrika hingga Asia Tenggara, dari Timbuktu hingga Filipina Selatan. Muncul pula kota-kota besar Islam di wilayah yang kini menjadi republik-republik Asia Tengah (bekas Uni Soviet), Cina, Eropa Timur, Spanyol, Italia Selatan, dan Sisilia.
(mif)