home masjid

Amal Sebagai Buah Iman: Dari Ibadah, Khilafah hingga Kerja Produktif Membangun Peradaban

Jum'at, 03 Oktober 2025 - 17:13 WIB
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: MEE
LANGIT7.ID-“Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.” Pepatah itu akrab di telinga umat Islam. Tetapi bagi Syaikh Yusuf Qardhawi, amal bukan sekadar etika, melainkan fondasi peradaban. Dalam bukunya Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah(1997), ia menegaskan, amal adalah buah ilmu sekaligus buah iman.

Qur’an sendiri mengikat erat keduanya. “Iman dan amal shalih” disebut berulang kali dalam puluhan ayat. Tafsir klasik menegaskan: iman yang sejati harus melahirkan amal. “Iman adalah sesuatu yang meresap dalam hati dan dibuktikan dengan amal,” ujar ulama salaf, sebagaimana dikutip Qardhawi.

Imam Ar-Raghib al-Ashfahani, dalam Adz-Dzari’ah ila Makaarim al-Syari’ah, menyebut tiga tujuan utama amal manusia: ibadah, khilafah, dan imaarah(memakmurkan bumi). Ketiganya saling terkait. Kerja produktif untuk memakmurkan bumi bisa bernilai ibadah, dan sekaligus perwujudan tugas khalifah.

Al-Qur’an menegaskan: manusia diciptakan “untuk beribadah” (Adz-Dzariyat: 56), menjadi khalifah di bumi (Al-Baqarah: 30), dan memakmurkan bumi (Hud: 61). Amal shalih, karena itu, tak berhenti di ruang ibadah ritual, tapi meluas ke bidang ekonomi, sosial, hingga politik.

Dari Kebun Kurma hingga Pabrik Baja

Kerja, dalam pandangan Islam, adalah ibadah. Rasulullah SAW menegaskan, memetik kayu bakar untuk dijual lebih baik ketimbang meminta-minta (HR. Bukhari). Bahkan, menanam bibit kurma menjelang kiamat sekalipun tetap dianjurkan (HR. Ahmad). Pesan simboliknya jelas: kerja produktif tak boleh berhenti, sampai detik terakhir kehidupan.

Qardhawi mencatat, bangsa Arab pra-Islam terbiasa mengandalkan patronase kepala suku ketimbang bekerja. Islam datang mengoreksi. Pertanian, industri, bahkan pertambangan dipandang sebagai ibadah bila diniatkan benar dan dilakukan itqan—sebaik-baiknya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya