home masjid

Syura: Musyawarah sebagai Jalan Peradaban

Sabtu, 04 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Dari keluarga hingga negara, ia jadi seni mendengar, merajut kebersamaan, dan meneguhkan demokrasi dalam wajah Islam Nusantara. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID– Dalam khazanah Islam, syura atau musyawarah bukan sekadar etika sosial. Ia adalah prinsip peradaban. Seperti tercatat dalam Al-Qur’an, prinsip syura hadir bukan hanya untuk urusan kenegaraan, tapi juga dalam ranah keluarga dan bahkan kehidupan individu.

“Tidak rugi orang yang beristikharah dan tidak merugi orang yang bermusyawarah,” kata Umar bin Khattab, sahabat Nabi, menegaskan pentingnya menggabungkan doa dengan deliberasi sosial.

Di masa Nabi Muhammad SAW, tradisi musyawarah menjadi praktik nyata. Nabi tidak segan meminta pendapat para sahabat dalam perang Uhud hingga soal perjanjian Hudaibiyah. Bahkan, urusan pribadi pun tak luput dari musyawarah: Fatimah binti Qais, yang datang meminta nasihat soal calon suami, memperoleh jawaban yang mempertimbangkan akhlak dan masa depan.

Seperti dijelaskan Syaikh Yusuf Qardhawi dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah(1997), musyawarah mencakup dua dimensi: pertama, dimensi Rabbani—istikharah untuk meminta pilihan terbaik dari Allah. Kedua, dimensi insani—bermusyawarah dengan orang berilmu dan bijak. Gabungan keduanya diyakini melahirkan keputusan yang lebih matang.

“Musyawarah membuka ruang bagi banyak sudut pandang, sehingga menghasilkan keputusan yang lebih syamil (komprehensif),” tulis Qardhawi.

Musyawarah di Ruang Keluarga

Tradisi syura juga dihidupkan dalam lingkup keluarga. Islam, menurut Qardhawi, menolak praktik ayah menikahkan anak gadis tanpa persetujuan. Bahkan Nabi SAW menekankan pentingnya suara perempuan dalam rumah tangga. Sebuah riwayat dari Imam Ahmad menyebut, “Bermusyawarahlah dengan kaum wanita (istri-istrimu) dalam urusan anak-anak mereka.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya