Shutdown Pemerintahan AS Hambat Laju Negosiasi Digital dengan Indonesia
Tim langit 7
Selasa, 07 Oktober 2025 - 15:12 WIB
Shutdown Pemerintahan AS Hambat Laju Negosiasi Digital dengan Indonesia
LANGIT7.ID–Jakarta;Shutdown pemerintahan Amerika Serikat memberi efek domino pada hubungan ekonomi internasional, termasuk upaya digitalisasi yang tengah dijajaki bersama Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa negosiasi kerja sama digital antara kedua negara kini harus berhenti sementara akibat kebijakan penghentian operasional sebagian lembaga federal di Washington.
Airlangga menjelaskan, penutupan sementara itu tidak hanya berdampak pada sektor domestik AS, tetapi juga menghentikan seluruh agenda kerja sama digital yang sedang berjalan. "Jadi, tim negosiasi berunding melalui Zoom, tetapi dengan adanya shutdown di Amerika, itu termasuk kita juga kena shutdown. Artinya, negosiasinya sementara terhenti,” kata Airlangga dalam konferensi pers Perundingan ASEAN DEFA putaran ke-14 di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Ia menambahkan, pembahasan dengan pihak AS merupakan bagian dari rencana besar kerja sama ekonomi digital, meliputi aspek perdagangan digital, keamanan data, dan tata kelola pertukaran informasi lintas negara. Karena kondisi politik di Washington, agenda tersebut tertunda sampai aktivitas pemerintahan Amerika kembali normal.
Meskipun demikian, Airlangga memastikan bahwa Indonesia tetap melakukan pemantauan situasi dan siap melanjutkan kembali negosiasi begitu keadaan memungkinkan. Pemerintah juga terus memperkuat posisi dalam forum digital regional untuk memastikan keterlibatan Indonesia tetap optimal.
Dalam forum yang sama, Airlangga turut menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai motor penggerak ekonomi digital di Asia Tenggara. Ia memaparkan bahwa sepanjang 2024, nilai ekonomi digital nasional sudah mencapai USD 90 miliar—tertinggi di kawasan ASEAN. “Indonesia memimpin ekonomi digital ASEAN di tahun 2024 mencapai USD 90 miliar dolar. Kemudian juga akan mencapai USD 360 miliar di tahun 2030," ujarnya.
Capaian tersebut menggambarkan daya saing digital Indonesia yang tumbuh pesat, seiring percepatan transformasi digital global dan meningkatnya partisipasi industri berbasis teknologi.
Pernyataan itu disampaikan dalam sesi perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) Putaran ke-14 yang digelar di Jakarta. Airlangga hadir bersama Chief Negotiation ASEAN-DEFA serta perwakilan dari ASEAN Secretariat. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam memperkuat fondasi kerja sama digital antarnegara ASEAN, memastikan seluruh anggota dapat memperoleh manfaat yang setara dari transformasi ekonomi digital kawasan.
Airlangga menjelaskan, penutupan sementara itu tidak hanya berdampak pada sektor domestik AS, tetapi juga menghentikan seluruh agenda kerja sama digital yang sedang berjalan. "Jadi, tim negosiasi berunding melalui Zoom, tetapi dengan adanya shutdown di Amerika, itu termasuk kita juga kena shutdown. Artinya, negosiasinya sementara terhenti,” kata Airlangga dalam konferensi pers Perundingan ASEAN DEFA putaran ke-14 di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Ia menambahkan, pembahasan dengan pihak AS merupakan bagian dari rencana besar kerja sama ekonomi digital, meliputi aspek perdagangan digital, keamanan data, dan tata kelola pertukaran informasi lintas negara. Karena kondisi politik di Washington, agenda tersebut tertunda sampai aktivitas pemerintahan Amerika kembali normal.
Meskipun demikian, Airlangga memastikan bahwa Indonesia tetap melakukan pemantauan situasi dan siap melanjutkan kembali negosiasi begitu keadaan memungkinkan. Pemerintah juga terus memperkuat posisi dalam forum digital regional untuk memastikan keterlibatan Indonesia tetap optimal.
Dalam forum yang sama, Airlangga turut menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai motor penggerak ekonomi digital di Asia Tenggara. Ia memaparkan bahwa sepanjang 2024, nilai ekonomi digital nasional sudah mencapai USD 90 miliar—tertinggi di kawasan ASEAN. “Indonesia memimpin ekonomi digital ASEAN di tahun 2024 mencapai USD 90 miliar dolar. Kemudian juga akan mencapai USD 360 miliar di tahun 2030," ujarnya.
Capaian tersebut menggambarkan daya saing digital Indonesia yang tumbuh pesat, seiring percepatan transformasi digital global dan meningkatnya partisipasi industri berbasis teknologi.
Pernyataan itu disampaikan dalam sesi perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) Putaran ke-14 yang digelar di Jakarta. Airlangga hadir bersama Chief Negotiation ASEAN-DEFA serta perwakilan dari ASEAN Secretariat. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam memperkuat fondasi kerja sama digital antarnegara ASEAN, memastikan seluruh anggota dapat memperoleh manfaat yang setara dari transformasi ekonomi digital kawasan.
(lam)