Syekh Ahmad al-Mutamakkin: Sang Sufi Pesisir yang Menyatukan Ilmu dan Laku
Miftah yusufpati
Selasa, 07 Oktober 2025 - 15:31 WIB
Di Kajen, nama Mutamakkin bukan sekadar sejarah. Ia hidup di napas masyarakat: dalam doa, ritual, dan tutur rakyat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di desa yang dikepung sawah dan angin laut utara, suara azan berbaur dengan gemuruh pengajian santri. Di sela waktu antara magrib dan isya, nama Syekh Ahmad al-Mutamakkin kerap disebut dengan nada penuh takzim. Di Kajen, Pati, nama itu bukan sekadar penanda sejarah: ia hidup di napas masyarakat, di ritual, di tutur rakyat, di bait doa.
“Beliau bukan sekadar guru ngaji,” kata Kiai muda di Kajen saat haul Mbah Mutamakkin beberapa waktu lalu. “Beliau simbol bagaimana ilmu dan laku menyatu.”
Tiga abad sudah berlalu sejak sang syekh berpulang, tapi jejaknya masih kuat dalam denyut pesantren pesisir. Ajaran neo-tasawuf yang ia wariskan, seperti dicatat peneliti Manggara Bagus Satriya Wijaya dan Sariyatun dari Universitas Sebelas Maret (2018), menjadi jembatan antara dunia fikih yang rasional dan tasawuf yang mistik. Di sanalah Mutamakkin berdiri: di tengah, di antara dua kutub yang sering berselisih.
Jejak Awal di Kajen
Riwayat lahirnya samar. Catatan sejarah tak menulis tanggal lahir yang pasti. Tapi cerita turun-temurun menyebutnya sebagai santri pengembara, yang menimba ilmu dari ulama pesisir hingga ke Jawa Timur. Ia kemudian menetap di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, dan membangun lingkungan pengajaran yang kelak dikenal sebagai cikal bakal pesantren Kajen.
Dalam kisah yang dikumpulkan situs Pustaka Muslim Assalafiyyah, Mutamakkin disebut memiliki murid yang kelak menjadi ulama besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia bukan hanya mengajarkan fikih, tetapi juga cara hidup yang berimbang — antara dzikir dan amal, antara kitab dan realitas sosial.
Baca juga: Agguy, Santan, dan Jejak Sufi dari Gowa ke Makkah
“Beliau bukan sekadar guru ngaji,” kata Kiai muda di Kajen saat haul Mbah Mutamakkin beberapa waktu lalu. “Beliau simbol bagaimana ilmu dan laku menyatu.”
Tiga abad sudah berlalu sejak sang syekh berpulang, tapi jejaknya masih kuat dalam denyut pesantren pesisir. Ajaran neo-tasawuf yang ia wariskan, seperti dicatat peneliti Manggara Bagus Satriya Wijaya dan Sariyatun dari Universitas Sebelas Maret (2018), menjadi jembatan antara dunia fikih yang rasional dan tasawuf yang mistik. Di sanalah Mutamakkin berdiri: di tengah, di antara dua kutub yang sering berselisih.
Jejak Awal di Kajen
Riwayat lahirnya samar. Catatan sejarah tak menulis tanggal lahir yang pasti. Tapi cerita turun-temurun menyebutnya sebagai santri pengembara, yang menimba ilmu dari ulama pesisir hingga ke Jawa Timur. Ia kemudian menetap di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, dan membangun lingkungan pengajaran yang kelak dikenal sebagai cikal bakal pesantren Kajen.
Dalam kisah yang dikumpulkan situs Pustaka Muslim Assalafiyyah, Mutamakkin disebut memiliki murid yang kelak menjadi ulama besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia bukan hanya mengajarkan fikih, tetapi juga cara hidup yang berimbang — antara dzikir dan amal, antara kitab dan realitas sosial.
Baca juga: Agguy, Santan, dan Jejak Sufi dari Gowa ke Makkah