Jejak Sammaniyah di Tanah Melayu: Ketika Angin Pembaruan Berembus dari Madinah ke Palembang
Miftah yusufpati
Rabu, 08 Oktober 2025 - 16:00 WIB
Dari serambi masjid ke pondok perdikan, pesantren lahir di Jawa abad ke-18 sebagai ruang belajar dan perlawanan halustempat tarekat, ilmu, dan spiritualitas bertemu dalam satu laku. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tepi Sungai Musi yang berliku, di bawah langit Palembang abad ke-18, para pelaut Arab, pedagang Cina, dan ulama dari Hijaz bersilang jalan. Di antara gemericik air dan tabuhan bedug masjid Kesultanan, sebuah arus baru pelan-pelan tumbuh: paham Sammaniyah. Ini adalah sebuah tarekat yang menekankan zikir, kesadaran spiritual, dan keteraturan ilmu.
Dari kota inilah, menurut sejarawan Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terjemahan Indonesia, 2015), arus pembaruan Islam Melayu mulai berbelok arah. Palembang, bukan lagi Aceh atau Banten, menjadi pusat cendekiawanan Islam pada paruh kedua abad ke-18. Di sinilah, kata Laffan, “ajaran-ajaran Mesir yang rasional dan tarekat Sammaniyah dari Madinah menemukan rumah di bumi Nusantara.”
Perjalanan gagasan ini berawal di Timur Tengah. Antara 1760 dan 1770, seorang ulama Madinah bernama Syekh Muhammad Samman (1717–1776) membangun jaringan pengajaran yang menjembatani Mekah, Madinah, dan Kairo. Dua murid dari “tanah Jawi”—sebutan bagi Asia Tenggara di dunia Arab—menjadi penerusnya: Muhammad Nafis al-Banjari dari Kalimantan Selatan dan Da’ud al-Fatani dari Semenanjung Malaya.
Keduanya berangkat dari dunia yang sedang bergolak. Setelah masa kejayaan Aceh meredup, pusat intelektual Islam bergeser ke Palembang dan Banjarmasin. Di kota-kota pelabuhan itu, para sultan membuka diri terhadap ulama dari Arab dan India, menjadikan istana mereka laboratorium bagi pembaruan pemikiran Islam.
Dalam catatan Laffan, dua figur penting lain ikut mengokohkan gerakan ini: Abd al-Samad al-Falimbani (1719–1789) dan Muhammad Arsyad al-Banjari (w. 1812). Keduanya belajar langsung kepada Syekh Samman di Madinah. Mereka pulang membawa bukan hanya ajaran zikir, tapi juga semangat rasionalisasi Islam: mengembalikan ajaran pada inti syariat dan menertibkan mistisisme yang dianggap menyimpang.
Palembang: Dari Mistisisme ke Ortodoksi
Palembang pada masa Sultan Mahmud Badr al-Din (1724–1757) adalah kota pelabuhan yang makmur. Lada dan timah menjadi sumber kekayaan, VOC menjadi mitra sekaligus lawan dagang. Di tengah stabilitas ekonomi itu, kehidupan intelektual pun berkembang. Sultan Ahmad Taj al-Din (1757–1774), pewaris takhta sekaligus pelindung ulama, mensponsori penerjemahan Fath al-Rahmankarya Wali Raslan—teks yang menandai peralihan dari mistisisme antinomi ke ortodoksi Sunni yang baru.
Dari kota inilah, menurut sejarawan Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terjemahan Indonesia, 2015), arus pembaruan Islam Melayu mulai berbelok arah. Palembang, bukan lagi Aceh atau Banten, menjadi pusat cendekiawanan Islam pada paruh kedua abad ke-18. Di sinilah, kata Laffan, “ajaran-ajaran Mesir yang rasional dan tarekat Sammaniyah dari Madinah menemukan rumah di bumi Nusantara.”
Perjalanan gagasan ini berawal di Timur Tengah. Antara 1760 dan 1770, seorang ulama Madinah bernama Syekh Muhammad Samman (1717–1776) membangun jaringan pengajaran yang menjembatani Mekah, Madinah, dan Kairo. Dua murid dari “tanah Jawi”—sebutan bagi Asia Tenggara di dunia Arab—menjadi penerusnya: Muhammad Nafis al-Banjari dari Kalimantan Selatan dan Da’ud al-Fatani dari Semenanjung Malaya.
Keduanya berangkat dari dunia yang sedang bergolak. Setelah masa kejayaan Aceh meredup, pusat intelektual Islam bergeser ke Palembang dan Banjarmasin. Di kota-kota pelabuhan itu, para sultan membuka diri terhadap ulama dari Arab dan India, menjadikan istana mereka laboratorium bagi pembaruan pemikiran Islam.
Dalam catatan Laffan, dua figur penting lain ikut mengokohkan gerakan ini: Abd al-Samad al-Falimbani (1719–1789) dan Muhammad Arsyad al-Banjari (w. 1812). Keduanya belajar langsung kepada Syekh Samman di Madinah. Mereka pulang membawa bukan hanya ajaran zikir, tapi juga semangat rasionalisasi Islam: mengembalikan ajaran pada inti syariat dan menertibkan mistisisme yang dianggap menyimpang.
Palembang: Dari Mistisisme ke Ortodoksi
Palembang pada masa Sultan Mahmud Badr al-Din (1724–1757) adalah kota pelabuhan yang makmur. Lada dan timah menjadi sumber kekayaan, VOC menjadi mitra sekaligus lawan dagang. Di tengah stabilitas ekonomi itu, kehidupan intelektual pun berkembang. Sultan Ahmad Taj al-Din (1757–1774), pewaris takhta sekaligus pelindung ulama, mensponsori penerjemahan Fath al-Rahmankarya Wali Raslan—teks yang menandai peralihan dari mistisisme antinomi ke ortodoksi Sunni yang baru.