Jejak Mistis di Ujung Ilmu: Ketika Al-Qur’an, Akal, dan Tarekat Bertemu di Tanah Jawi
Miftah yusufpati
Rabu, 08 Oktober 2025 - 17:00 WIB
Hafalan bukan akhir, tapi awal perjalanan. Dari juz Amma ke jalan makrifat, Islam Jawi membentuk jembatan antara hukum dan rasa, antara dunia yang tampak dan yang batin. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah langgar kecil di pesisir utara Jawa, seorang anak lelaki berusia dua belas tahun menunduk di hadapan gurunya. Di depannya, mushaf lusuh terbuka pada juz ke-30, tempat segala pelajaran dimulai. Dari sini, perjalanan panjang seorang murid Jawi menuju ilmu dan mistisisme Islam pun dibentuk.
Bagi umat Islam di Nusantara pada abad ke-18 hingga ke-19, memahami Al-Qur’an bukan sekadar ibadah, melainkan pintu masuk menuju tatanan kosmologis yang menghubungkan akal dengan yang Ilahi. Dalam buku The Makings of Indonesian Islamkarya Michael Laffan (Princeton University Press, 2011; terj. 2015), dijelaskan bahwa perjalanan seorang pelajar Jawi dimulai dengan hafalan juz terakhir Al-Qur’an—sebuah proses yang menekankan keindahan oral dan kesetiaan pada tradisi lisan.
Laffan mencatat, “Murid-murid belajar melafalkan teks dengan bantuan guru dan teman sebaya, dan penghafalan menjadi seni tersendiri yang dihormati.” Bahkan, menurut Zayn al-Din dari Sumbawa dalam buku ajarnya tahun 1888, para tunanetra sering kali dianggap penghafal terbaik—karena mereka “melihat dengan telinga, bukan dengan mata”.
Setelah menguasai bacaan, pelajaran berikutnya bukanlah tasawuf atau tafsir, melainkan fikih dan tauhid dasar. Di sinilah Al-Qur’an diterjemahkan menjadi hukum, etika, dan struktur sosial. Laffan menyebut bahwa karya klasik seperti Sittin mas’ala fi al-fiqh (Enam Puluh Pertanyaan tentang Fikih) karya Abul-‘Abbas al-Misri menjadi buku teks utama. Disusul kemudian oleh Umm al-Barahinkarya al-Sanusi—yang lebih dikenal di Jawa sebagai Sifat Dua Puluh.
Baca juga: Dari Pondok ke Pesantren: Ketika Sufisme Menemukan Rumahnya di Jawa
Kitab ini, kata Laffan, adalah “puncak dari pendidikan Islam tradisional,” ringkas tapi padat, mengajarkan sifat-sifat Tuhan dan rasul dengan format tanya-jawab yang mudah dihafal:
“Apa itu iman?”
Bagi umat Islam di Nusantara pada abad ke-18 hingga ke-19, memahami Al-Qur’an bukan sekadar ibadah, melainkan pintu masuk menuju tatanan kosmologis yang menghubungkan akal dengan yang Ilahi. Dalam buku The Makings of Indonesian Islamkarya Michael Laffan (Princeton University Press, 2011; terj. 2015), dijelaskan bahwa perjalanan seorang pelajar Jawi dimulai dengan hafalan juz terakhir Al-Qur’an—sebuah proses yang menekankan keindahan oral dan kesetiaan pada tradisi lisan.
Laffan mencatat, “Murid-murid belajar melafalkan teks dengan bantuan guru dan teman sebaya, dan penghafalan menjadi seni tersendiri yang dihormati.” Bahkan, menurut Zayn al-Din dari Sumbawa dalam buku ajarnya tahun 1888, para tunanetra sering kali dianggap penghafal terbaik—karena mereka “melihat dengan telinga, bukan dengan mata”.
Setelah menguasai bacaan, pelajaran berikutnya bukanlah tasawuf atau tafsir, melainkan fikih dan tauhid dasar. Di sinilah Al-Qur’an diterjemahkan menjadi hukum, etika, dan struktur sosial. Laffan menyebut bahwa karya klasik seperti Sittin mas’ala fi al-fiqh (Enam Puluh Pertanyaan tentang Fikih) karya Abul-‘Abbas al-Misri menjadi buku teks utama. Disusul kemudian oleh Umm al-Barahinkarya al-Sanusi—yang lebih dikenal di Jawa sebagai Sifat Dua Puluh.
Baca juga: Dari Pondok ke Pesantren: Ketika Sufisme Menemukan Rumahnya di Jawa
Kitab ini, kata Laffan, adalah “puncak dari pendidikan Islam tradisional,” ringkas tapi padat, mengajarkan sifat-sifat Tuhan dan rasul dengan format tanya-jawab yang mudah dihafal:
“Apa itu iman?”