Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 06 Juni 2026
home masjid detail berita

Dari Pondok ke Pesantren: Ketika Sufisme Menemukan Rumahnya di Jawa

miftah yusufpati Rabu, 08 Oktober 2025 - 05:15 WIB
Dari Pondok ke Pesantren: Ketika Sufisme Menemukan Rumahnya di Jawa
Ponpes Sidogiri: memahami sejarah pesantren berarti memahami bagaimana Islam beradaptasi dengan ruang sosial dan politik Nusantara. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Surakarta, abad ke-18. Di sebuah dusun dekat Ponorogo, di antara suara gamelan dan desir padi yang menguning, berdirilah sebuah bangunan sederhana beratap rumbia. Orang-orang menyebutnya pondok. Di sini menjadi tempat para pelajar agama bermalam, belajar kitab, dan berlatih laku spiritual. Di sinilah, pelan-pelan, model pendidikan Islam Jawa menemukan bentuknya: pesantren.

Namun, menurut sejarawan Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011; terj. 2015), pesantren bukanlah warisan langsung dari dunia Arab. Akar historisnya lebih rumit: pertemuan antara tarekat sufi, patronase kerajaan, dan kebutuhan masyarakat akan ruang belajar di luar istana.

“Tidak ada laporan yang mendukung bahwa pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh lembaga-lembaga semacam pesantren pada masa-masa awal penyebaran Islam,” tulis Laffan. Pada abad ke-16 dan ke-17, kegiatan belajar agama biasanya berlangsung di beranda masjid atau di ruang-ruang kecil yang direstui istana.

Kesaksian pelancong Eropa memberi gambaran awal. Jacob van Neck, pelaut Belanda yang singgah di Ternate pada 1599, menyaksikan para guru agama mengajar anak-anak di halaman masjid. Di tahun yang sama, John Davis mencatat adanya “banyak sekolah” di Aceh, tempat para murid belajar mengaji sambil memegang tasbih. Namun, seperti ditekankan Laffan, belum ada bukti bahwa sekolah-sekolah itu telah menjadi kompleks besar sebagaimana pesantren modern sekarang.

Pada masa itu, pendidikan agama masih berada dalam orbit kekuasaan: diatur, diawasi, dan diberi legitimasi oleh istana. Hanya mereka yang mendapat restu raja yang boleh mengajarkan ajaran Islam secara terbuka. “Persetujuan kerajaan sangat penting,” tulis Laffan, “karena dapat membebaskan guru dan pengikutnya dari kewajiban pajak dan kerja rodi.”

Syattariyyah dan Politik Perdikannya

Seiring waktu, pesantren tumbuh keluar dari bayang-bayang istana. Pada abad ke-18, muncul pola baru: desa-desa “perdikan”—tanah bebas pajak—yang menjadi pusat pengajaran agama. Dalam catatan Laffan, raja-raja Jawa seperti Pakubuwana II dan Mangkubumi (1749–1792) kerap menetapkan lokasi-lokasi pengajaran atau makam suci sebagai wilayah otonom spiritual.

Melalui sistem ini, hubungan antara tarekat dan kekuasaan mulai terbentuk. Tarekat Syattariyyah, misalnya, menjadi salah satu jaringan keilmuan yang memperoleh tempat di keraton Surakarta. Pada 1789, Laffan mencatat, Pakubuwana IV (1788–1820) diduga terpengaruh faksi keagamaan Syattariyyah yang menantang dominasi ajaran “Karang”—jaringan mistik yang berpusat di Karangnunggal, Banten, di bawah Syekh ‘Abd al-Muhyi.

Munculnya perdikan-perdikan berorientasi Syattari menandai babak baru dalam pendidikan Islam Jawa: pesantren tak lagi sekadar tempat belajar, melainkan juga simbol kekuasaan spiritual yang diakui kerajaan.

Antara Pondok dan Pesantren

Laffan menunjukkan bahwa istilah “pesantren” sendiri baru populer belakangan. Di akhir abad ke-19, lembaga-lembaga keagamaan yang disokong kaum Syattari lebih sering disebut pondok. Istilah itu, menurut Laffan, mungkin berasal dari bahasa Arab funduq (penginapan), yang berakar dari bahasa Yunani.

Jejak historis ini menarik: pada abad ke-16, para pelancong Aceh yang menuntut ilmu ke Kairo juga tinggal di funduq-funduq seperti halnya pedagang Venesia dan Portugis. Laffan menduga, bentuk penginapan dagang gaya Utsmani ini mungkin terbawa ke Asia Tenggara, lalu bertransformasi menjadi lembaga pendidikan berasrama bagi para pelajar agama.

“Sekolah asrama independen,” tulisnya, “merupakan inovasi belakangan.” Awalnya hanya tempat berteduh, lama-lama menjadi pusat penanaman ajaran Islam dan Sufisme lokal.

Raja, Guru, dan Santri

Dalam struktur sosial Jawa abad ke-18, hubungan antara raja, guru, dan santri menciptakan jaringan keilmuan yang khas. Kerajaan memberi legitimasi dan perlindungan, sementara para guru menyalurkan ajaran yang memperkuat otoritas spiritual istana. Di sisi lain, para santri muda belajar tak hanya fikih, tapi juga etika dan disiplin hidup yang mencerminkan pengaruh sufisme.

Dalam konteks ini, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi juga ruang perlawanan halus: tempat orang belajar di luar sistem birokrasi kerajaan, tanpa kehilangan restu simboliknya. Di sinilah pesantren memadukan spiritualitas tarekat dengan rasionalitas fiqih, menciptakan corak Islam Nusantara yang unik—luhur sekaligus membumi.

Jejak yang Bertahan

Abad ke-18 menandai masa transformasi: dari serambi masjid ke pondok, dari patronase istana ke jaringan independen. Laffan menyebutnya sebagai masa “lahirnya ruang-ruang belajar yang bebas dari pusat kekuasaan.” Di sanalah Islam Nusantara menemukan wadahnya.

Kini, ketika pesantren tumbuh menjadi ribuan lembaga di seluruh Indonesia, sedikit yang menyadari bahwa akar historisnya terentang hingga masa para wali dan tarekat Syattariyyah. Dari funduq di Kairo hingga pondok di Ponorogo, dari doa di masjid istana hingga kitab di pondok kecil, warisan itu terus hidup dalam sistem pendidikan Islam yang kita kenal hari ini.

Bagi Michael Laffan, memahami sejarah pesantren berarti memahami bagaimana Islam beradaptasi dengan ruang sosial dan politik Nusantara. Bukan sekadar lembaga pendidikan, pesantren adalah “ruang negosiasi antara kekuasaan dan kesalehan.”

Di tengah dunia modern yang serba cepat, pesantren tetap memelihara sesuatu yang tak berubah: kedalaman laku dan disiplin spiritual yang telah berakar sejak abad ke-18. Ia bukan lembaga tua, melainkan rumah bagi tradisi yang selalu diperbarui.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 06 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)