Jejak Panjang Reformasi Islam: Dari Imam Bonjol ke Ruang Muslim Modern
Miftah yusufpati
Kamis, 09 Oktober 2025 - 16:30 WIB
Di balik citra pemberontaknya, Imam Bonjol menyimpan kisah spiritual tentang dzikir, tarekat, dan reformasi Islam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah kampung yang kini hanya tersisa jejak benteng tanah liat di Luhak Agam, Sumatra Barat, seorang tua berjubah putih duduk termenung. Namanya tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai Tuanku Imam Bonjol—ulama, pejuang, sekaligus pemimpin perang yang namanya menjelma legenda. Namun di balik citranya sebagai pemberontak, tersimpan kisah yang lebih dalam: pergulatan panjang antara mistisisme, kekuasaan, dan modernitas Islam di Nusantara.
Michael Laffan dalam karyanya The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. Mizan, 2015) menyebut masa ini sebagai babak “reformasi dan meluasnya ruang muslim”. Sebuah periode ketika Islam di Nusantara tak lagi hanya berkutat di istana atau pesantren pesisir, tetapi mulai membentuk publik religius yang lebih luas—terdidik, terhubung, dan politis.
Laffan menemukan jejak penting dalam penyebaran tarekat Naqsyabandiyah di Sumatra pada paruh pertama abad ke-19. Ia menulis tentang murid-murid Syekh Da’ud dari Sunur—seorang ulama yang menolak ajaran martabat tujuh dan mempromosikan ortodoksi baru berlandaskan al-Ghazali dan Imam Nawawi.
Salah satu muridnya, Ahmad bin Jalal al-Din, kembali ke Cangking sebagai pengajar Naqsyabandiyah pada 1860-an. Di Trumon, Aceh Selatan, seorang tokoh lokal, Raja Bujang (w. 1832/33), juga disebut-sebut sebagai murid Da’ud. “Jaringan spiritual itu,” tulis Laffan, “menjadi benih bagi bentuk Islam yang lebih rasional, disiplin, dan terhubung dengan dunia Utsmani.”
B.J.O. Schrieke, sejarawan Belanda, mencatat dalam Indonesian Sociological Studies(1955) bahwa salah satu murid Syekh Da’ud, Isma‘il al-Minangkabawi, bahkan mengibarkan bendera Utsmani di Singapura pada 1850-an—sebuah simbol keterikatan religius dengan dunia Islam global.
Tarekat ini bukan sekadar ritual sufistik; ia adalah kanal komunikasi transnasional. Melalui para haji dan murid-murid Da’ud, ide tentang “reformasi Islam” menyebar dari Mekah ke pesisir Nusantara.
Baca juga: Api Jihad dari Bukit Barisan: Imam Bonjol dan Perang Sabil Minangkabau
Michael Laffan dalam karyanya The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. Mizan, 2015) menyebut masa ini sebagai babak “reformasi dan meluasnya ruang muslim”. Sebuah periode ketika Islam di Nusantara tak lagi hanya berkutat di istana atau pesantren pesisir, tetapi mulai membentuk publik religius yang lebih luas—terdidik, terhubung, dan politis.
Laffan menemukan jejak penting dalam penyebaran tarekat Naqsyabandiyah di Sumatra pada paruh pertama abad ke-19. Ia menulis tentang murid-murid Syekh Da’ud dari Sunur—seorang ulama yang menolak ajaran martabat tujuh dan mempromosikan ortodoksi baru berlandaskan al-Ghazali dan Imam Nawawi.
Salah satu muridnya, Ahmad bin Jalal al-Din, kembali ke Cangking sebagai pengajar Naqsyabandiyah pada 1860-an. Di Trumon, Aceh Selatan, seorang tokoh lokal, Raja Bujang (w. 1832/33), juga disebut-sebut sebagai murid Da’ud. “Jaringan spiritual itu,” tulis Laffan, “menjadi benih bagi bentuk Islam yang lebih rasional, disiplin, dan terhubung dengan dunia Utsmani.”
B.J.O. Schrieke, sejarawan Belanda, mencatat dalam Indonesian Sociological Studies(1955) bahwa salah satu murid Syekh Da’ud, Isma‘il al-Minangkabawi, bahkan mengibarkan bendera Utsmani di Singapura pada 1850-an—sebuah simbol keterikatan religius dengan dunia Islam global.
Tarekat ini bukan sekadar ritual sufistik; ia adalah kanal komunikasi transnasional. Melalui para haji dan murid-murid Da’ud, ide tentang “reformasi Islam” menyebar dari Mekah ke pesisir Nusantara.
Baca juga: Api Jihad dari Bukit Barisan: Imam Bonjol dan Perang Sabil Minangkabau