home masjid

Dari Musa hingga Zulqarnain: Jejak Ta’awun dalam Kitab Al-Quran

Senin, 13 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Al-Quran tak hanya menyeru iman, tapi juga kolaborasi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam lembar-lembar Al-Qur’an, kisah tolong-menolong—ta’awun—tak hanya muncul sebagai seruan moral, melainkan sebagai fondasi sosial yang menegakkan peradaban. Dari Musa dan Harun hingga Zulqarnain, Al-Qur’an menampilkan kerja kolektif sebagai ruh perubahan.

Dalam surah Thaaha (29–35), Musa mengajukan doa sederhana tapi mendalam: agar Allah mengangkat saudaranya, Harun, sebagai pendamping dalam dakwah. Ia tak meminta harta, tapi meminta kekuatan bersama. “Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.”

Doa itu dijawab dengan janji ilahi dalam Al-Qashash (35): “Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar.”

Di sini, Syaikh Yusuf Qardhawi dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah(1997) menafsirkan bahwa kerja sama dua nabi itu menjadi teladan bagi setiap sistem sosial yang sehat—bahwa tanggung jawab dakwah, kekuasaan, bahkan spiritualitas tak bisa berdiri di atas satu bahu. “Musa dan Harun,” tulis Qardhawi, “adalah simbol ta’awun antara ilmu dan kelembutan, antara kepemimpinan dan pendampingan.”

Zulqarnain dan Dinding Besi: Kerja Kolektif Melindungi Umat

Kisah lain hadir dalam Al-Kahfi (94–97), tentang Zulqarnain yang diminta rakyatnya membuat benteng dari besi untuk menahan Ya’juj dan Ma’juj. Ketika rakyat menawarkan upah, sang pemimpin menjawab: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku lebih baik. Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat).”

Zulqarnain tak menuntut upah—ia menuntut partisipasi. Qardhawi menyebutnya sebagai “model ta’awun antara pemimpin dan rakyat,” sebuah kerja bersama yang melahirkan keamanan sosial. Benteng itu bukan hanya tembok fisik, tapi lambang solidaritas spiritual: manusia yang bahu-membahu menjaga kebaikan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya