Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 30 April 2026
home masjid detail berita

Dari Musa hingga Zulqarnain: Jejak Taawun dalam Kitab Al-Quran

miftah yusufpati Senin, 13 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Dari Musa hingga Zulqarnain: Jejak Taawun dalam Kitab Al-Quran
Al-Quran tak hanya menyeru iman, tapi juga kolaborasi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam lembar-lembar Al-Qur’an, kisah tolong-menolong—ta’awun—tak hanya muncul sebagai seruan moral, melainkan sebagai fondasi sosial yang menegakkan peradaban. Dari Musa dan Harun hingga Zulqarnain, Al-Qur’an menampilkan kerja kolektif sebagai ruh perubahan.

Dalam surah Thaaha (29–35), Musa mengajukan doa sederhana tapi mendalam: agar Allah mengangkat saudaranya, Harun, sebagai pendamping dalam dakwah. Ia tak meminta harta, tapi meminta kekuatan bersama. “Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.”

Doa itu dijawab dengan janji ilahi dalam Al-Qashash (35): “Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar.”

Di sini, Syaikh Yusuf Qardhawi dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah (1997) menafsirkan bahwa kerja sama dua nabi itu menjadi teladan bagi setiap sistem sosial yang sehat—bahwa tanggung jawab dakwah, kekuasaan, bahkan spiritualitas tak bisa berdiri di atas satu bahu. “Musa dan Harun,” tulis Qardhawi, “adalah simbol ta’awun antara ilmu dan kelembutan, antara kepemimpinan dan pendampingan.”

Zulqarnain dan Dinding Besi: Kerja Kolektif Melindungi Umat

Kisah lain hadir dalam Al-Kahfi (94–97), tentang Zulqarnain yang diminta rakyatnya membuat benteng dari besi untuk menahan Ya’juj dan Ma’juj. Ketika rakyat menawarkan upah, sang pemimpin menjawab: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku lebih baik. Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat).”

Zulqarnain tak menuntut upah—ia menuntut partisipasi. Qardhawi menyebutnya sebagai “model ta’awun antara pemimpin dan rakyat,” sebuah kerja bersama yang melahirkan keamanan sosial. Benteng itu bukan hanya tembok fisik, tapi lambang solidaritas spiritual: manusia yang bahu-membahu menjaga kebaikan.

Bagi Qardhawi, ta’awun bukan hanya anjuran moral, tetapi sistem nilai yang mendasari masyarakat Islam. Ia menegaskan bahwa kerja sama dalam kebaikan (ta’awun ‘ala al-birr wa al-taqwa) adalah prinsip struktural yang mengatur hubungan antarmanusia—seperti dalam pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi.

Dalam masyarakat modern yang terpecah oleh kompetisi dan egoisme, nilai ini terasa seperti napas segar. Ia menawarkan alternatif: kekuatan sosial yang lahir dari empati dan kolaborasi, bukan dominasi.

Dari Kisah ke Kehidupan

Jika Musa dan Harun mengajarkan pentingnya saling menopang dalam misi, dan Zulqarnain menunjukkan arti kepemimpinan yang partisipatif, maka *ta’awun* adalah benang merah di antara keduanya—sebuah ajaran bahwa kekuatan sejati umat lahir bukan dari satu tangan, melainkan dari tangan-tangan yang saling menggenggam.

Dalam tafsir Yusuf Qardhawi, kisah-kisah itu bukan dongeng spiritual, melainkan cetak biru bagi masyarakat ideal: sebuah komunitas yang berdiri di atas gotong royong, kesalingan, dan iman bersama.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 30 April 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)