Ketika Syahadat Terdengar Asing di Telinga VOC: Islam yang Tak Bisa Ditaklukkan
Miftah yusufpati
Senin, 13 Oktober 2025 - 15:07 WIB
VOC datang dengan senapan dan katekismus, tapi menemukan jaringan Islam yang lebih kokoh dari tembok benteng. Di pelabuhan dan pesantren, iman menolak dijajah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di awal abad ke-17, tatkala layar-layar besar Belanda menembus pelabuhan-pelabuhan di timur Sumatra dan Maluku, mereka bukan hanya membawa rempah dan senapan. Mereka juga membawa kitab dan kecurigaan.
Bagi orang-orang Eropa Protestan itu, dunia di seberang Tanjung Harapan dipenuhi “orang kafir” yang memeluk “agama Mahometish”—sebutan mereka untuk Islam. Para pelaut dan pedagang VOC memandang tanah Hindia dengan campuran rasa takut, kagum, dan salah paham.
Seperti ditulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (hlm. 80–83), Islam bagi orang Belanda kala itu lebih tampak sebagai ritual bising dan gerak tubuh asing ketimbang agama yang berakar kuat di intelektualitas dan moral masyarakat.
Frederick de Houtman, pelaut Belanda yang sempat ditawan di Aceh pada 1599, mencatat bagaimana orang-orang Melayu berdoa di “Musquita”, dengan “teriakan nyaring yang terdengar dari dua puluh rumah jauhnya.”
Ia menulis doa mereka seperti bunyi mantra yang tak dikenalnya: Stofferolla, Stofferolla, Ascehad an la Yll lol la… Machumed die rossulla.
Sebuah transliterasi kacau dari syahadat, yang di telinganya terdengar seperti gumaman eksotis.
Bahasa, Iman, dan Kekuasaan
Bagi orang-orang Eropa Protestan itu, dunia di seberang Tanjung Harapan dipenuhi “orang kafir” yang memeluk “agama Mahometish”—sebutan mereka untuk Islam. Para pelaut dan pedagang VOC memandang tanah Hindia dengan campuran rasa takut, kagum, dan salah paham.
Seperti ditulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (hlm. 80–83), Islam bagi orang Belanda kala itu lebih tampak sebagai ritual bising dan gerak tubuh asing ketimbang agama yang berakar kuat di intelektualitas dan moral masyarakat.
Frederick de Houtman, pelaut Belanda yang sempat ditawan di Aceh pada 1599, mencatat bagaimana orang-orang Melayu berdoa di “Musquita”, dengan “teriakan nyaring yang terdengar dari dua puluh rumah jauhnya.”
Ia menulis doa mereka seperti bunyi mantra yang tak dikenalnya: Stofferolla, Stofferolla, Ascehad an la Yll lol la… Machumed die rossulla.
Sebuah transliterasi kacau dari syahadat, yang di telinganya terdengar seperti gumaman eksotis.
Bahasa, Iman, dan Kekuasaan