Zakat, Kerja, dan Martabat: Jalan Islam Mengentaskan Kemiskinan
Miftah yusufpati
Senin, 13 Oktober 2025 - 16:00 WIB
Dalam ajaran Islam, kesejahteraan bukan privilese, tapi amanah. Ilustrasi: Muhammadiyah or id
LANGIT7.ID-Di banyak tempat di negeri ini, kemiskinan masih menjadi wajah yang paling tua di antara semua wajah penderitaan. Namun, di mata sebagian orang, kemiskinan justru dimuliakan—dilihat sebagai jalan penyucian jiwa. Seolah papa adalah tanda suci, dan miskin adalah jalan menuju surga.
Pandangan itu, kata Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 1996), adalah salah satu kekeliruan mendasar dalam cara sebagian umat memaknai ajaran Islam. “Langkah pertama yang dilakukan Al-Qur’an adalah meluruskan persepsi yang keliru tentang kemiskinan,” tulisnya.
Dalam sejumlah ayat, Al-Qur’an justru mendorong manusia untuk mencari fadhlullah — kelebihan rezeki dari Allah.
“Apabila telah selesai shalat (Jumat), maka bertebaranlah di bumi dan carilah karunia Allah.” (QS Al-Jumu’ah [62]: 10).
Kecukupan bahkan disebut sebagai anugerah Tuhan kepada Nabi Muhammad ﷺ:
“Bukankah Allah mendapatimu miskin, lalu Dia menjadikanmu berkecukupan?” (QS Adh-Dhuha [93]: 8).
Jika kemiskinan adalah keutamaan, tentu ayat ini tidak menempatkan kekayaan sebagai anugerah. Dalam pandangan Al-Qur’an, kekayaan bukanlah lawan dari kesalehan — yang berdosa bukan memiliki, melainkan melupakan.
Pandangan itu, kata Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 1996), adalah salah satu kekeliruan mendasar dalam cara sebagian umat memaknai ajaran Islam. “Langkah pertama yang dilakukan Al-Qur’an adalah meluruskan persepsi yang keliru tentang kemiskinan,” tulisnya.
Dalam sejumlah ayat, Al-Qur’an justru mendorong manusia untuk mencari fadhlullah — kelebihan rezeki dari Allah.
“Apabila telah selesai shalat (Jumat), maka bertebaranlah di bumi dan carilah karunia Allah.” (QS Al-Jumu’ah [62]: 10).
Kecukupan bahkan disebut sebagai anugerah Tuhan kepada Nabi Muhammad ﷺ:
“Bukankah Allah mendapatimu miskin, lalu Dia menjadikanmu berkecukupan?” (QS Adh-Dhuha [93]: 8).
Jika kemiskinan adalah keutamaan, tentu ayat ini tidak menempatkan kekayaan sebagai anugerah. Dalam pandangan Al-Qur’an, kekayaan bukanlah lawan dari kesalehan — yang berdosa bukan memiliki, melainkan melupakan.