home masjid

Iman di Atas Kertas: Ketika Tinta dan Kertas Menjadi Senjata yang Lebih Tajam dari Pedang.

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 05:15 WIB
Ketika meriam tak lagi cukup menaklukkan Nusantara, Inggris dan Belanda membawa senjata baru: mesin cetak. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pada awal abad ke-19, di antara dentuman meriam dan bendera yang berganti dari Inggris ke Belanda, sebuah kekuatan baru diam-diam bekerja: tinta dan huruf timah. Mereka menyebutnya peradaban. Tapi bagi sebagian penduduk Nusantara, itu adalah upaya mencetak ulang makna Tuhan.

“Para misionaris melihat Asia Tenggara bukan sekadar wilayah dagang, tapi ladang rohani,” tulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Serambi, 2015. Yang mereka bawa bukan hanya Alkitab, tapi mesin cetak portabel—“sekuat meriam bagi serdadu pelindung mereka.

Di tangan Inggris, pengetahuan mulai berubah bentuk: dari lisan menjadi cetakan, dari manuskrip menjadi “teks yang dapat dikontrol.”

Litografi—teknik cetak baru yang memantulkan bentuk tulisan tangan ke atas batu—menjadi medium kolonial yang paling halus: ia meniru bentuk tulisan Arab dan Jawi agar tampak akrab bagi pembaca Muslim.

“Buku-buku yang dicetak litografis tampak seperti manuskrip, dan dengan inskripsi Mohammedan di bagian awal, mereka diterima sebagaimana terbitan mereka sendiri,” tulis W.H. Medhurst dari Singapura, Juli 1828 (dikutip Laffan, hlm. 105–106).

Sejak 1817, percetakan misionaris mulai hidup di Malaka, lalu Batavia (1822) dan Padang (1834). Injil dalam bahasa Melayu dicetak dalam dua huruf: Jawi bagi kaum Muslim, Latin bagi para pembelajar Barat. Belanda, yang tak mau ketinggalan, mendirikan Nederlandsche Zendelinggenootschap—Masyarakat Injil Belanda—pada 1814 dan menerbitkan Injil Leijdecker versi baru pada 1820.

Tinta dan kertas menjadi senjata yang lebih tajam dari pedang.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya