LANGIT7.ID-Pada awal abad ke-19, di antara dentuman meriam dan bendera yang berganti dari Inggris ke Belanda, sebuah kekuatan baru diam-diam bekerja: tinta dan huruf timah. Mereka menyebutnya peradaban. Tapi bagi sebagian penduduk Nusantara, itu adalah upaya mencetak ulang makna Tuhan.
“Para misionaris melihat Asia Tenggara bukan sekadar wilayah dagang, tapi ladang rohani,” tulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Serambi, 2015. Yang mereka bawa bukan hanya Alkitab, tapi mesin cetak portabel—“sekuat meriam bagi serdadu pelindung mereka.
Di tangan Inggris, pengetahuan mulai berubah bentuk: dari lisan menjadi cetakan, dari manuskrip menjadi “teks yang dapat dikontrol.”
Litografi—teknik cetak baru yang memantulkan bentuk tulisan tangan ke atas batu—menjadi medium kolonial yang paling halus: ia meniru bentuk tulisan Arab dan Jawi agar tampak akrab bagi pembaca Muslim.
“Buku-buku yang dicetak litografis tampak seperti manuskrip, dan dengan inskripsi Mohammedan di bagian awal, mereka diterima sebagaimana terbitan mereka sendiri,” tulis W.H. Medhurst dari Singapura, Juli 1828 (dikutip Laffan, hlm. 105–106).
Sejak 1817, percetakan misionaris mulai hidup di Malaka, lalu Batavia (1822) dan Padang (1834). Injil dalam bahasa Melayu dicetak dalam dua huruf: Jawi bagi kaum Muslim, Latin bagi para pembelajar Barat. Belanda, yang tak mau ketinggalan, mendirikan Nederlandsche Zendelinggenootschap—Masyarakat Injil Belanda—pada 1814 dan menerbitkan Injil Leijdecker versi baru pada 1820.
Tinta dan kertas menjadi senjata yang lebih tajam dari pedang.
Ketika Munsyi Belajar dari MisionarisDi balik hiruk-pikuk percetakan itu, muncul sosok penting: Munsyi Abdullah bin Abdul Kadir, penulis dan penerjemah ulung asal Melaka. Ia menjadi jembatan antara dua dunia: dunia huruf Arab dan mesin tipografis Eropa.
Selama dua dekade, Munsyi bekerja dengan John Leyden, Thomas Stamford Raffles, Medhurst, dan para misionaris lainnya. Ia belajar bukan hanya tentang bahasa, tetapi tentang bagaimana “menyebarkan makna” lewat bentuk cetakan.
Laffan menulis, pengalaman Munsyi Abdullah “melahirkan tradisi baru dalam kesusastraan Melayu—dari teks religius ke sejarah dan pemikiran.”
Setelah menyaksikan naskah-naskahnya terbakar di kapal Fame, Abdullah memilih jalan pelestarian tulisan: ia mulai mencatat sejarah Melayu dan kisah peradaban baru. “Dengan pena, ia melawan lupa,” tulis Laffan.
Dari tangannya lahir preseden bagi tokoh-tokoh penerus seperti Kemas Azhari di Palembang dan Husayn al-Habsyi di Surabaya, yang menjadikan tulisan sebagai ruang dakwah dan perlawanan.
Tuhan di Antara Dua HurufNamun percetakan kolonial tak berhenti di sana. Sebuah naskah berjudul Hikayat Maryam wa-‘Isa terbit di Batavia pada 1826—ditulis dalam Melayu, penuh kutipan Injil dalam bahasa Arab. “Pernyataan iman dalam teks itu berbunyi: ‘Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Yesus adalah ruh Allah,’” catat Laffan (hlm. 106).
Sebuah rumusan baru yang memadukan syahadat dengan Kristologi, membangun “jembatan” antara dua keyakinan—atau barangkali, menyesatkan batasnya.
Teks itu, kata Laffan, “meniru gaya tafsir Islam tradisional,” lengkap dengan penjelasan (tafsir) di pinggir halaman. Tapi di tangan misionaris, bentuk tafsir itu menjadi alat persuasif. Tampaknya, mereka belajar: untuk masuk ke dalam hati umat Islam, mereka harus meniru cara Al-Qur’an berbicara.
Dari Doa ke DoktrinKekuatan percetakan membuat gagasan berpindah tanpa izin. Dalam waktu singkat, salinan-salinan Injil Leijdecker, Mazmur berbahasa Arab, dan rangkaian himne karya William Robinson—pendeta Baptis yang aktif di Jawa—menyebar luas. Namun, seperti dikatakan Laffan, “bentuk adalah satu hal, isi adalah hal lain.” Buku-buku itu bisa meniru kaligrafi Islam, tapi tak dapat meniru maknanya.
Para misionaris mengira dengan mencetak “Injil bergaya Arab,” mereka bisa membuka pintu hati umat Islam. Yang terjadi justru sebaliknya:
Di tengah teks-teks bercampur, umat Muslim Jawa mulai mengembangkan kesadaran baru tentang pentingnya ilmu dan tulisan sebagai benteng iman.
“Litografi, yang semula diciptakan untuk meniru naskah Muslim, malah menghidupkan kembali semangat literasi Islam lokal,” tulis Laffan.
Cetak Biru Pengetahuan Kolonial
Di balik percetakan misionaris ini, ada proyek yang lebih besar: menguasai makna lewat pengetahuan.
Seperti pernah dilakukan oleh Inggris di India, dan kemudian Belanda di Hindia Timur, kekuasaan kolonial memahami bahwa pengetahuan adalah kunci kekuasaan.
Penerjemahan Injil, katalog pesantren, survei ulama, hingga percetakan kitab—semuanya bagian dari rezim pengetahuan yang disebut Laffan sebagai “upaya menjinakkan Islam melalui ilmu.”
“Bentuk kolonialisme baru tidak lagi membakar masjid,” tulisnya, “tetapi mencetak buku-buku di dalam bahasa mereka.”
Dari Mesin ke Kesadaran
Kini, dua abad kemudian, sisa-sisa sejarah itu masih bisa kita rasakan. Bahasa Melayu Jawi yang dulu dipakai untuk mencetak Injil, kini menjadi warisan sastra Islam Nusantara.
Para misionaris gagal mengubah iman, tapi tanpa sadar mereka memperkuat tradisi baca-tulis umat Islam.
“Dari tangan para penjajah lahir kesadaran baru bahwa pengetahuan harus dimiliki, bukan diterima,” tulis Laffan.
Sejarah mencatat: sebelum bangsa ini memegang senjata, ia terlebih dahulu memegang pena.
(mif)