Quraish Shihab: Antara Syura dan Demokrasi, Ada Jalan Tengah Islam
Miftah yusufpati
Kamis, 23 Oktober 2025 - 16:15 WIB
Demokrasi berbicara tentang suara mayoritas. Syura menekankan musyawarah untuk mufakat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID – Ketika demokrasi Barat kerap dielu-elukan sebagai sistem terbaik, Prof Dr Quraish Shihab menawarkan cara pandang yang lebih dalam. Dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan), ia menulis: “Al-Qur’an dan Sunnah menetapkan prinsip-prinsip pokok kehidupan politik: syura, keadilan, tanggung jawab, dan jaminan hak-hak manusia.”
Musyawarah atau syura, bagi Quraish bukan sekadar tradisi, tapi prinsip moral dan spiritual. Ia adalah bagian dari sistem ilahi yang menolak kediktatoran, namun juga berhati-hati terhadap tirani mayoritas.
Quraish membagi model pengambilan keputusan ke dalam tiga bentuk: oleh penguasa, oleh minoritas, dan oleh mayoritas. Demokrasi modern cenderung memilih yang terakhir. Namun, Islam, katanya, memberi warna berbeda.
“Syura yang diwajibkan oleh Islam tidak dapat dibayangkan berwujud seperti keputusan penguasa,” tulisnya. Tapi ia juga menolak dominasi minoritas. Dalam pandangannya, syura adalah proses kolektif yang dilakukan oleh “orang-orang pilihan yang memiliki sifat terpuji, tanpa kepentingan pribadi atau golongan.”
Mayoritas Tak Selalu Benar
Beberapa sarjana Islam modern memang menolak prinsip mayoritas dengan dalih Al-Qur’an: “Kebanyakan kamu tidak menyenangi kebenaran” (QS Al-Zukhruf [43]: 78).
Namun, Quraish menegaskan konteks ayat itu berbeda. Ia bukan bicara soal musyawarah, melainkan tentang sikap masyarakat yang menolak wahyu. “Menolak mayoritas dalam konteks politik,” tulis Quraish, “adalah keliru, karena syura menuntut partisipasi dan keterlibatan bersama.”
Musyawarah atau syura, bagi Quraish bukan sekadar tradisi, tapi prinsip moral dan spiritual. Ia adalah bagian dari sistem ilahi yang menolak kediktatoran, namun juga berhati-hati terhadap tirani mayoritas.
Quraish membagi model pengambilan keputusan ke dalam tiga bentuk: oleh penguasa, oleh minoritas, dan oleh mayoritas. Demokrasi modern cenderung memilih yang terakhir. Namun, Islam, katanya, memberi warna berbeda.
“Syura yang diwajibkan oleh Islam tidak dapat dibayangkan berwujud seperti keputusan penguasa,” tulisnya. Tapi ia juga menolak dominasi minoritas. Dalam pandangannya, syura adalah proses kolektif yang dilakukan oleh “orang-orang pilihan yang memiliki sifat terpuji, tanpa kepentingan pribadi atau golongan.”
Mayoritas Tak Selalu Benar
Beberapa sarjana Islam modern memang menolak prinsip mayoritas dengan dalih Al-Qur’an: “Kebanyakan kamu tidak menyenangi kebenaran” (QS Al-Zukhruf [43]: 78).
Namun, Quraish menegaskan konteks ayat itu berbeda. Ia bukan bicara soal musyawarah, melainkan tentang sikap masyarakat yang menolak wahyu. “Menolak mayoritas dalam konteks politik,” tulis Quraish, “adalah keliru, karena syura menuntut partisipasi dan keterlibatan bersama.”