home masjid

Ketika Harta Tak Lagi Diharamkan: Islam dan Rehabilitasi Nilai Kekayaan

Ahad, 26 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Kekayaan bukan kutukan, tapi amanah yang harus dikelola dengan moral, agar menjadi kebaikan di tangan orang saleh. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di banyak peradaban kuno, harta dianggap sumber dosa. Para rahib memuja kefakiran sebagai jalan keselamatan. Orang suci digambarkan sebagai mereka yang meninggalkan dunia, menolak kemewahan, dan menjauh dari kenikmatan materi. Namun, Islam datang dengan pandangan yang jauh lebih realistis — dan revolusioner: bahwa kekayaan bukan kutukan, melainkan amanah.

Pemikiran itu diurai tajam oleh Syaikh Yusuf Qardhawi dalam karyanya Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah(Citra Islami Press, 1997). Menurut ulama besar asal Mesir itu, Islam adalah agama yang menempatkan harta sebagai “kebaikan di tangan orang-orang baik”. Ajaran ini sekaligus menantang dua ekstrem: kaum spiritualis yang memusuhi dunia, dan kaum materialis yang menuhankan harta.

“Sebaik-baik harta,” kata Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang dikutip Qardhawi, “adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang saleh.”

Sebelum Islam datang, dunia mengenal dua kutub ekstrem dalam memandang ekonomi. Di Timur, aliran Brahmana di India dan sekte Manawi’ di Persia menilai kekayaan sebagai penghalang kesucian jiwa. Sementara di Barat, sistem kerahiban Kristen menempatkan kemiskinan sebagai tanda kesalehan.

Dalam Injil Matius, sebagaimana dikutip Qardhawi, Yesus pernah berkata kepada seorang pemuda kaya, “Juallah hartamu, dan berikanlah kepada fakir miskin, lalu ikutlah aku.” Ketika pemuda itu enggan, Yesus menimpali: “Lebih mudah unta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk ke kerajaan surga.”*

Sebaliknya, abad modern melahirkan ekstrem baru: kaum materialis dan sosialis, yang menempatkan ekonomi sebagai pusat hidup, dan harta sebagai “tuhan baru” manusia. Dalam pandangan Qardhawi, kedua ekstrem itu sama-sama kehilangan keseimbangan.

Islam, katanya, justru menghadirkan sintesis. Ia tidak memuja kefakiran, tapi juga tidak mengagungkan harta. Ia memandang kekayaan sebagai sarana — bukan tujuan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya