Ketika Ukhuwah Tak Cukup dengan Kata: Merenungi Tiga Pilar Persaudaraan dalam Islam
Miftah yusufpati
Rabu, 29 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam masyarakat yang kian terpecah oleh tafsir dan simbol keagamaan, seruan untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah—persaudaraan sesama Muslim—sering terdengar, tapi jarang dipahami dalam kedalaman maknanya. Ukhuwah, dalam pandangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab, bukan sekadar jargon harmoni atau semboyan ukhrawi. Ia adalah sistem nilai yang berpijak pada kesadaran epistemologis—bahwa perbedaan dalam memahami ajaran agama adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah.
Dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan, 1996), Quraish Shihab menawarkan tiga konsep kunci untuk memantapkan ukhuwah: tanawwu‘ al-‘ibadah, al-mukhti’u fi al-ijtihad lahu ajr, dan la hukma lillah qabla ijtihad al-mujtahid.
Ketiganya menjadi fondasi bagi sikap saling menghargai di tengah keragaman tafsir dan praktik keagamaan umat.
1. Tanawwu‘ al-‘Ibadah: Ketika Keragaman Ibadah Diakui Nabi
Konsep pertama, tanawwu‘ al-‘ibadah, mengajarkan bahwa perbedaan cara beribadah bukanlah penyimpangan, melainkan cermin dari keluasan sunnah Nabi ﷺ.
“Dalam konsep ini,” tulis Quraish Shihab, “agama tidak menanyakan ‘berapa hasil 5 + 5’, tetapi ‘berapa tambah berapa yang hasilnya sepuluh.’”
Metafora ini menggambarkan bahwa Islam membuka ruang untuk variasi ibadah—selama semuanya bersumber dari Rasulullah ﷺ.
Dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan, 1996), Quraish Shihab menawarkan tiga konsep kunci untuk memantapkan ukhuwah: tanawwu‘ al-‘ibadah, al-mukhti’u fi al-ijtihad lahu ajr, dan la hukma lillah qabla ijtihad al-mujtahid.
Ketiganya menjadi fondasi bagi sikap saling menghargai di tengah keragaman tafsir dan praktik keagamaan umat.
1. Tanawwu‘ al-‘Ibadah: Ketika Keragaman Ibadah Diakui Nabi
Konsep pertama, tanawwu‘ al-‘ibadah, mengajarkan bahwa perbedaan cara beribadah bukanlah penyimpangan, melainkan cermin dari keluasan sunnah Nabi ﷺ.
“Dalam konsep ini,” tulis Quraish Shihab, “agama tidak menanyakan ‘berapa hasil 5 + 5’, tetapi ‘berapa tambah berapa yang hasilnya sepuluh.’”
Metafora ini menggambarkan bahwa Islam membuka ruang untuk variasi ibadah—selama semuanya bersumber dari Rasulullah ﷺ.