Fadli Zon Buka UISPP 2025, Tegaskan Indonesia Pusat Peradaban dan Warisan Dunia
Tim langit 7
Rabu, 29 Oktober 2025 - 09:42 WIB
Fadli Zon Buka UISPP 2025, Tegaskan Indonesia Pusat Peradaban dan Warisan Dunia
LANGIT7.ID–Jakarta;Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon secara resmi membuka UISPP Inter-Regional Conference 2025 bertajuk “Asian Prehistory Today: Bridging Science, Heritage, and Development” yang diselenggarakan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Konferensi ini merupakan bagian dari agenda internasional Union Internationale des Sciences Préhistoriques et Protohistoriques (UISPP) dan bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya. Konferensi UISPP menjadi forum penting bagi para akademisi, peneliti, konservator, dan praktisi dari berbagai negara untuk berdiskusi, berbagi temuan terbaru, dan meninjau perkembangan ilmu prasejarah.
Tidak hanya fokus pada penemuan dan penelitian di Indonesia, konferensi UISPP juga membuka wawasan terhadap warisan budaya prasejarah di seluruh Asia Tenggara, Asia, dan dunia. Dengan mengundang pakar dan akademisi dari berbagai institusi prasejarah dunia, konferensi ini diharapkan meningkatkan eksposur akademik Indonesia dalam kajian arkeologi global serta membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam penelitian dan pelestarian warisan budaya.
Dalam sambutannya, Menbud Fadli mengapresiasi perhelatan konferensi UISPP Inter-Regional Conference 2025 sebagai ruang percakapan mengenai peradaban manusia, memori budaya, dan masa depan kebudayaan dunia. Dirinya turut menekankan posisi strategis Indonesia dan Asia sebagai tuan rumah konferensi yang menjadi awal hidup umat manusia untuk bekerja dengan logam, menyebrangi lautan, menguburkan orang mati, hingga membentuk peradaban awal.
“Indonesia bangga menjadi tuan rumah konferensi ini karena nilai yang dibahas lebih luas dari sekadar warisan nasional kita. Ini adalah catatan prasejarah bersama Asia, dan dalam banyak hal, dunia. Forum ini turut mengakui bahwa kepulauan ini adalah salah satu pusat sejarah manusia. Forum ini juga mengakui bahwa Asia merupakan koridor penting pergerakan dan inovasi manusia,” ucap Menteri Fadli dalam keterangannya, Rabu (29/10/2025).
Menbud juga menyoroti kekayaan sejarah dan budaya Indonesia yang menjadi warisan dunia dan keragaman peradaban. “Kami menjadi rumah bagi lebih dari 1.340 kelompok etnis yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, serta penjaga 718 bahasa, sekitar 10% dari warisan linguistik dunia. Lebih dari sekadar biodiversitas, ini adalah keragaman peradaban yang terdiri dari sistem pengetahuan, ritual, epos lisan, pengelolaan air dan tanah, garis keturunan seni, dan tradisi maritim. Di sini kita dapat menelusuri jejak kehidupan manusia sepanjang milenium, bahkan jutaan tahun.” jelasnya di hadapan para hadirin.
Di samping itu, Menbud turut menyampaikan rencana repatriasi fosil Pithecanthropus Erectus yang ditemukan oleh Eugène Dubois 135 tahun yang lalu di tepi Sungai Bengawan Solo. Repatriasi ini, lanjut Menbud, menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam mengembalikan hak dan kedaulatan budaya nasional. “Lebih dari 50% fosil Homo erectus dunia ditemukan di Indonesia. Namun selama lebih dari satu abad, dunia membahas asal-usul manusia menggunakan fosil itu, sementara sebagian besar masyarakat Indonesia tidak dapat melihatnya di tanah air. Era itu berakhir sekarang. Bulan lalu, Kementerian Kebudayaan berhasil memulangkan Dubois Collection dari Belanda sebanyak 28.131 fosil beserta catatan kontekstual dari Jawa dan Sumatra. Ini merupakan tonggak sejarah bagi kita, sebuah tindakan keadilan restoratif dan rekonsiliasi historis.” tuturnya.
Selain fosil, Menbud turut menyampaikan bahwa Indonesia memiliki gua-gua prasejarah yang menyimpan narasi kontinu tentang asal-usul manusia, adaptasi, dan kreativitas. “Indonesia juga memiliki lukisan naratif tertua dunia berusia 51.200 tahun yang ditemukan di Gua Leang Karampuang, Maros, Sulawesi Selatan. Di Sumatra Barat, terdapat Gua Lida Ajer yang menunjukkan Homo sapiens hidup di hutan hujan tropis lebih dari 60.000 tahun yang lalu. Di Gua Harimau, Sumatera Selatan, terdapat urutan budaya dari sekitar 22.000 tahun yang lalu hingga Zaman Logam awal. Di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara juga terdapat gua-gua karst yang menyimpan ribuan piktograf tentang berburu, menari, ritual, serta penggambaran aktivitas pelaut Austronesia yang kemudian membentuk Asia Tenggara dan Indo-Pasifik.” ucap Menteri Kebudayaan.
Tidak hanya fokus pada penemuan dan penelitian di Indonesia, konferensi UISPP juga membuka wawasan terhadap warisan budaya prasejarah di seluruh Asia Tenggara, Asia, dan dunia. Dengan mengundang pakar dan akademisi dari berbagai institusi prasejarah dunia, konferensi ini diharapkan meningkatkan eksposur akademik Indonesia dalam kajian arkeologi global serta membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam penelitian dan pelestarian warisan budaya.
Dalam sambutannya, Menbud Fadli mengapresiasi perhelatan konferensi UISPP Inter-Regional Conference 2025 sebagai ruang percakapan mengenai peradaban manusia, memori budaya, dan masa depan kebudayaan dunia. Dirinya turut menekankan posisi strategis Indonesia dan Asia sebagai tuan rumah konferensi yang menjadi awal hidup umat manusia untuk bekerja dengan logam, menyebrangi lautan, menguburkan orang mati, hingga membentuk peradaban awal.
“Indonesia bangga menjadi tuan rumah konferensi ini karena nilai yang dibahas lebih luas dari sekadar warisan nasional kita. Ini adalah catatan prasejarah bersama Asia, dan dalam banyak hal, dunia. Forum ini turut mengakui bahwa kepulauan ini adalah salah satu pusat sejarah manusia. Forum ini juga mengakui bahwa Asia merupakan koridor penting pergerakan dan inovasi manusia,” ucap Menteri Fadli dalam keterangannya, Rabu (29/10/2025).
Menbud juga menyoroti kekayaan sejarah dan budaya Indonesia yang menjadi warisan dunia dan keragaman peradaban. “Kami menjadi rumah bagi lebih dari 1.340 kelompok etnis yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, serta penjaga 718 bahasa, sekitar 10% dari warisan linguistik dunia. Lebih dari sekadar biodiversitas, ini adalah keragaman peradaban yang terdiri dari sistem pengetahuan, ritual, epos lisan, pengelolaan air dan tanah, garis keturunan seni, dan tradisi maritim. Di sini kita dapat menelusuri jejak kehidupan manusia sepanjang milenium, bahkan jutaan tahun.” jelasnya di hadapan para hadirin.
Di samping itu, Menbud turut menyampaikan rencana repatriasi fosil Pithecanthropus Erectus yang ditemukan oleh Eugène Dubois 135 tahun yang lalu di tepi Sungai Bengawan Solo. Repatriasi ini, lanjut Menbud, menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam mengembalikan hak dan kedaulatan budaya nasional. “Lebih dari 50% fosil Homo erectus dunia ditemukan di Indonesia. Namun selama lebih dari satu abad, dunia membahas asal-usul manusia menggunakan fosil itu, sementara sebagian besar masyarakat Indonesia tidak dapat melihatnya di tanah air. Era itu berakhir sekarang. Bulan lalu, Kementerian Kebudayaan berhasil memulangkan Dubois Collection dari Belanda sebanyak 28.131 fosil beserta catatan kontekstual dari Jawa dan Sumatra. Ini merupakan tonggak sejarah bagi kita, sebuah tindakan keadilan restoratif dan rekonsiliasi historis.” tuturnya.
Selain fosil, Menbud turut menyampaikan bahwa Indonesia memiliki gua-gua prasejarah yang menyimpan narasi kontinu tentang asal-usul manusia, adaptasi, dan kreativitas. “Indonesia juga memiliki lukisan naratif tertua dunia berusia 51.200 tahun yang ditemukan di Gua Leang Karampuang, Maros, Sulawesi Selatan. Di Sumatra Barat, terdapat Gua Lida Ajer yang menunjukkan Homo sapiens hidup di hutan hujan tropis lebih dari 60.000 tahun yang lalu. Di Gua Harimau, Sumatera Selatan, terdapat urutan budaya dari sekitar 22.000 tahun yang lalu hingga Zaman Logam awal. Di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara juga terdapat gua-gua karst yang menyimpan ribuan piktograf tentang berburu, menari, ritual, serta penggambaran aktivitas pelaut Austronesia yang kemudian membentuk Asia Tenggara dan Indo-Pasifik.” ucap Menteri Kebudayaan.