home masjid

Ketika Belanda Bingung Membaca Islam: Riwayat Awal Kekeliruan Pengetahuan di Nusantara

Kamis, 30 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Dari lontar yang disangka teks Jepang hingga kamus yang salah tafsir, Belanda berabad-abad gagal memahami Islam di Nusantara. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di sebuah ruang arsip Universitas Leiden yang lembap dan berdebu, tersimpan selembar lontar kuno dari Hindia Timur. Bagi profesor bahasa Yunani, Bonaventura Vulcanius (1538–1614), naskah itu tampak misterius. Ia menyebutnya teks Jepang. Padahal, isi manuskrip itu memuat ajaran Islam dari seorang tokoh bernama Seh Bari—jejak awal pengetahuan Islam di Nusantara yang justru disalahpahami sejak awal.

Begitulah yang dicatat Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara(Mizan, 2015). Laffan menulis dengan getir: “Kebingungan ini menjadi cermin keterputusan antara kuasa dan pengetahuan. Belanda menguasai tanahnya, tapi tidak memahami jiwanya.”

VOC bukan hanya datang untuk berdagang rempah, tapi juga membawa semangat misi Calvinis. Namun, dalam catatan Laffan, para pendeta dan pegawai VOC justru ikut berdagang—dan sebagian membawa pulang teks-teks Islam seperti Burdah karya al-Busiri, atau ‘Aqa’id karya al-Nasafi.

Ironisnya, banyak teks itu disimpan tanpa dimengerti. “Beberapa dokumen dimasukkan ke dalam kategori ‘terlalu kabur untuk dipecahkan’,” tulis Laffan. Sebuah traktat sufi berbahasa Jawa, misalnya, sudah diketahui sejak 1597, tapi baru diterbitkan secara ilmiah pada 1881—nyaris tiga abad kemudian.

Di Eropa, Islam dipandang dari jauh, lewat kabut prasangka. Bahkan kamus Melayu milik orientalis Jacob Gool (Golius) mencatat kata hajj bukan sebagai “ziarah ke Mekah”, melainkan “membaca kitab suci dalam bahasa Arab.” Sebuah kekeliruan yang nyaris puitik, dan juga tragis.

Bahasa yang Tak Dimengerti, Iman yang Tak Tersampaikan

Laffan mencatat bahwa VOC mendirikan sekolah-sekolah misionaris di Ambon dan Banda. Mereka menerjemahkan Injil Matius ke dalam bahasa Melayu pada 1612, tetapi dianggap mencurigakan karena “terlalu Katolik.” Seorang misionaris menulis getir: “Mengajarkan agama dengan bahasa Melayu bagi orang Ambon beraroma Katolik.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya