Permata Bank Syariah Catat Kenaikan Laba 12 Persen, Bukti Ketahanan Ekonomi Syariah
Tim langit 7
Kamis, 30 Oktober 2025 - 13:33 WIB
Permata Bank Syariah Catat Kenaikan Laba 12 Persen, Bukti Ketahanan Ekonomi Syariah
LANGIT7.ID–Jakarta; Unit Usaha Syariah (UUS) Permata Bank terus menunjukkan performa yang impresif di tengah persaingan industri perbankan syariah nasional. Hingga akhir kuartal III 2025, entitas ini berhasil mencatatkan laba operasional sebelum provisi sebesar Rp598,6 miliar, meningkat 12 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pencapaian ini menandai konsistensi Permata Bank Syariah dalam memperkuat profitabilitas berbasis prinsip syariah, sekaligus menjaga efisiensi biaya operasional.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil sebesar 9,4 persen yoy, diiringi pengendalian beban secara disiplin di seluruh lini bisnis syariah. Dari sisi penghimpunan dana, total simpanan nasabah UUS mencapai Rp26,9 triliun, tumbuh solid seiring lonjakan CASA sebesar 15,1 persen yoy, yang kini berkontribusi besar terhadap stabilitas pendanaan. Rasio CASA Unit Syariah Permata Bank pun melonjak menjadi 66,1 persen, jauh di atas rata-rata industri perbankan syariah Indonesia.
Konsistensi tersebut memperkuat posisi UUS Permata Bank sebagai salah satu unit syariah paling efisien di Tanah Air. Manajemen menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan basis komunitas syariah serta memperluas jaringan pendanaan murah yang berkelanjutan, demi memperkokoh pertumbuhan jangka panjang.
“Dengan fundamental yang kuat, dukungan penuh dari Bangkok Bank, serta kepercayaan nasabah yang terus meningkat, mendorong kami untuk memperkuat fondasi bisnis yang sehat, memperdalam hubungan dengan nasabah, dan memperkuat posisi sebagai Bank pilihan utama di setiap segmen,” ujar Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli dalam keterangannya, dikutip Kamis (30/10/2025).
Pertumbuhan Kredit dan Likuiditas Terjaga
Selain performa gemilang dari unit syariah, secara konsolidasi Permata Bank mencatatkan penyaluran kredit Rp158,9 triliun, tumbuh 5,4 persen yoy hingga September 2025. Kinerja ini didorong oleh peningkatan dari segmen korporasi (naik 8,2 persen) dan komersial (naik 10,4 persen), mencerminkan ekspansi kredit yang tetap hati-hati.
Rasio kredit bermasalah juga terjaga baik, dengan NPL Gross di level 2,1 persen dan Loan at Risk (LAR) sebesar 7,0 persen, menunjukkan profil risiko yang terkendali. Bank pun menyiapkan NPL Coverage 351 persen dan LAR Coverage 107 persen, sebagai langkah antisipatif terhadap potensi penurunan kualitas kredit.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil sebesar 9,4 persen yoy, diiringi pengendalian beban secara disiplin di seluruh lini bisnis syariah. Dari sisi penghimpunan dana, total simpanan nasabah UUS mencapai Rp26,9 triliun, tumbuh solid seiring lonjakan CASA sebesar 15,1 persen yoy, yang kini berkontribusi besar terhadap stabilitas pendanaan. Rasio CASA Unit Syariah Permata Bank pun melonjak menjadi 66,1 persen, jauh di atas rata-rata industri perbankan syariah Indonesia.
Konsistensi tersebut memperkuat posisi UUS Permata Bank sebagai salah satu unit syariah paling efisien di Tanah Air. Manajemen menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan basis komunitas syariah serta memperluas jaringan pendanaan murah yang berkelanjutan, demi memperkokoh pertumbuhan jangka panjang.
“Dengan fundamental yang kuat, dukungan penuh dari Bangkok Bank, serta kepercayaan nasabah yang terus meningkat, mendorong kami untuk memperkuat fondasi bisnis yang sehat, memperdalam hubungan dengan nasabah, dan memperkuat posisi sebagai Bank pilihan utama di setiap segmen,” ujar Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli dalam keterangannya, dikutip Kamis (30/10/2025).
Pertumbuhan Kredit dan Likuiditas Terjaga
Selain performa gemilang dari unit syariah, secara konsolidasi Permata Bank mencatatkan penyaluran kredit Rp158,9 triliun, tumbuh 5,4 persen yoy hingga September 2025. Kinerja ini didorong oleh peningkatan dari segmen korporasi (naik 8,2 persen) dan komersial (naik 10,4 persen), mencerminkan ekspansi kredit yang tetap hati-hati.
Rasio kredit bermasalah juga terjaga baik, dengan NPL Gross di level 2,1 persen dan Loan at Risk (LAR) sebesar 7,0 persen, menunjukkan profil risiko yang terkendali. Bank pun menyiapkan NPL Coverage 351 persen dan LAR Coverage 107 persen, sebagai langkah antisipatif terhadap potensi penurunan kualitas kredit.