home masjid

Menuju Pemenuhan Kebutuhan dan Kemandirian Ummat Menurut Syaikh Al-Qardhawi

Kamis, 30 Oktober 2025 - 16:30 WIB
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: al Jazeera
LANGIT7.ID-Di tengah arus kapitalisme global yang menggulung ekonomi umat Islam dari dalam, gagasan kemandirian umat kembali mencuat ke permukaan. Satu pertanyaan lama muncul kembali: bagaimana umat dapat memenuhi kebutuhannya tanpa kehilangan jati diri dan arah spiritual?

Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam karyanya Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah(Malaamihu Al-Mujtama’ Al-Muslim Alladzi Nasyuduh, 1997), menawarkan cetak biru pembangunan umat berbasis iman dan perencanaan. Ia menegaskan, “Umat tidak akan mandiri tanpa ilmu, perencanaan, dan pengelolaan aset yang amanah.”

Namun dalam tafsir kontemporer, gagasan Qardhawi tak sekadar idealisme agama—ia adalah kritik sosial terhadap ketergantungan struktural umat pada ekonomi dunia yang timpang.

1. Perencanaan: Dari Yusuf ke Data Statistik

Dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Yusuf di Mesir bukan sekadar cerita ketabahan—tapi juga pelajaran manajemen ekonomi jangka panjang. Qardhawi menafsirkan strategi Yusuf mengantisipasi masa paceklik sebagai contoh perencanaan berbasis data dan realitas lapangan.

Umat, katanya, harus “menyusun prioritas dan mengenali kemampuan diri,” bukan sekadar bereaksi pada krisis.

“Islam tidak anti modernitas,” tulisnya, “tapi menuntut akurasi dan tanggung jawab moral dalam setiap keputusan ekonomi.” Dalam konteks hari ini, tafsir itu bisa dibaca sebagai seruan untuk membangun basis data umat—dari pendidikan hingga pangan—sebelum berbicara soal kemandirian.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya