home masjid

Sederhana dalam Berinfak: Ketika Derma Bukan Soal Jumlah, tapi Kesadaran

Jum'at, 31 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Berinfak tak diukur jumlahnya, melainkan keseimbangan antara kenikmatan, tanggung jawab, dan empati sosial. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah hiruk-pikuk ekonomi modern—di mana keberhasilan sering diukur dari seberapa banyak kita bisa membelanjakan—Islam datang dengan ajaran yang membalikkan paradigma itu. Dalam Al-Qur’an, orang beriman disebut Ibadurrahman—hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih—yang ketika membelanjakan harta, “tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, tapi berada di tengah-tengah” (QS. Al-Furqan [25]: 64).

Kesederhanaan, kata Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bukanlah bentuk kemiskinan, melainkan disiplin spiritual dan sosial. Ia adalah kesadaran untuk memberi tanpa berlebihan, menikmati tanpa melupakan batas, dan menyimpan tanpa menimbun.

Sejarah Islam mencatat, kesederhanaan pernah menjadi strategi ekonomi global. Nabi Yusuf AS, dalam kisah klasik tentang Mesir kuno, mengajarkan manajemen pangan dengan logika yang sederhana tapi visioner: menahan pengeluaran pada masa subur untuk menghadapi masa paceklik. “Apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk kamu makan,” (QS. Yusuf [12]: 47).

Al-Qardhawi menafsirkan ayat ini sebagai pelajaran tentang perencanaan dan pengendalian. Kesederhanaan bukan sekadar moral pribadi, tapi fondasi kebijakan publik. Dalam masa-masa sulit, seperti pada masa Khalifah Umar bin Khattab, prinsip itu diwujudkan secara nyata. Umar bahkan mendorong setiap rumah untuk menyalurkan sebagian kelebihan mereka kepada tetangga yang kekurangan. “Manusia tidak akan punah dengan separuh perut mereka,” katanya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim.

Antara Zuhud dan Zalim

Kesederhanaan dalam Islam tidak berarti menolak kenikmatan hidup. Nabi Muhammad SAW justru menegaskan: “Sesungguhnya Allah senang melihat bekas kenikmatan-Nya pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi).

Dengan kata lain, menikmati pakaian bagus atau makanan lezat bukan dosa—selama tak menjelma menjadi kesombongan atau pemborosan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya