Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Sederhana dalam Berinfak: Ketika Derma Bukan Soal Jumlah, tapi Kesadaran

miftah yusufpati Jum'at, 31 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Sederhana dalam Berinfak: Ketika Derma Bukan Soal Jumlah, tapi Kesadaran
Berinfak tak diukur jumlahnya, melainkan keseimbangan antara kenikmatan, tanggung jawab, dan empati sosial. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah hiruk-pikuk ekonomi modern—di mana keberhasilan sering diukur dari seberapa banyak kita bisa membelanjakan—Islam datang dengan ajaran yang membalikkan paradigma itu. Dalam Al-Qur’an, orang beriman disebut Ibadurrahman—hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih—yang ketika membelanjakan harta, “tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, tapi berada di tengah-tengah” (QS. Al-Furqan [25]: 64).

Kesederhanaan, kata Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bukanlah bentuk kemiskinan, melainkan disiplin spiritual dan sosial. Ia adalah kesadaran untuk memberi tanpa berlebihan, menikmati tanpa melupakan batas, dan menyimpan tanpa menimbun.

Sejarah Islam mencatat, kesederhanaan pernah menjadi strategi ekonomi global. Nabi Yusuf AS, dalam kisah klasik tentang Mesir kuno, mengajarkan manajemen pangan dengan logika yang sederhana tapi visioner: menahan pengeluaran pada masa subur untuk menghadapi masa paceklik. “Apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk kamu makan,” (QS. Yusuf [12]: 47).

Al-Qardhawi menafsirkan ayat ini sebagai pelajaran tentang perencanaan dan pengendalian. Kesederhanaan bukan sekadar moral pribadi, tapi fondasi kebijakan publik. Dalam masa-masa sulit, seperti pada masa Khalifah Umar bin Khattab, prinsip itu diwujudkan secara nyata. Umar bahkan mendorong setiap rumah untuk menyalurkan sebagian kelebihan mereka kepada tetangga yang kekurangan. “Manusia tidak akan punah dengan separuh perut mereka,” katanya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim.

Antara Zuhud dan Zalim

Kesederhanaan dalam Islam tidak berarti menolak kenikmatan hidup. Nabi Muhammad SAW justru menegaskan: “Sesungguhnya Allah senang melihat bekas kenikmatan-Nya pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi).

Dengan kata lain, menikmati pakaian bagus atau makanan lezat bukan dosa—selama tak menjelma menjadi kesombongan atau pemborosan.

Qardhawi membedakan dua hal penting: israf (berlebihan dalam hal halal) dan tabdzir (menghambur-hamburkan harta untuk hal haram). Seorang Muslim boleh hidup layak, tapi tidak boleh hidup mewah. Boleh dermawan, tapi tidak boros. “Janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah kamu melampaui batas,” firman Allah (QS. Al-Maidah [5]: 87).

Kata “melampaui batas” di sini, menurut Qardhawi, bukan hanya dalam konsumsi, tapi juga dalam spiritualitas—termasuk mengharamkan kenikmatan yang halal atas nama kesalehan.

Ekonomi Iman: Antara Pemasukan dan Pengeluaran

Dalam ekonomi modern, ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran bisa menciptakan krisis pribadi. Dalam Islam, itu disebut israf. Rasulullah SAW memperingatkan agar umatnya menjaga keseimbangan finansial: “Makan dan minumlah, berpakaian dan bersedekahlah, selama tidak disertai dengan berlebihan dan kesombongan.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Qardhawi menyebut utang sebagai bentuk ketidakseimbangan spiritual dan sosial: “Utang membawa keresahan di malam hari dan kehinaan di siang hari.” Karena itu, berinfak melebihi kemampuan finansial termasuk bentuk israf yang dilarang.

Kesederhanaan, dalam konteks ini, bukan pelit—melainkan pengelolaan cerdas: cukup untuk diri, bermanfaat bagi sesama.

Memerangi Kemewahan: Bahaya dari At-Taraf

Salah satu bagian paling keras dalam tulisan Qardhawi adalah kritik terhadap “at-taraf”—kemewahan yang berlebihan. Dalam istilah Al-Qur’an, orang-orang yang hidup mewah justru menjadi pihak pertama yang menolak kebenaran: “Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.’” (QS. Saba’ [34]: 34).

Kemewahan, kata Qardhawi, mengikis rasa syukur, menumpulkan empati, dan menumbuhkan ketimpangan. Ia bukan sekadar gaya hidup, tapi penyakit sosial yang bisa menghancurkan peradaban. “Barangsiapa yang hidup hanya untuk memenuhi syahwatnya,” tulisnya, “maka setiap ajakan menuju kebaikan akan terasa seperti ancaman.”

Infaq: Dari Rumah ke Ruang Publik

Islam menempatkan infak dalam dua lingkaran: pribadi dan sosial. Pertama, kepada diri dan keluarga—karena menelantarkan tanggung jawab nafkah dianggap dosa. Kedua, kepada masyarakat—karena zakat, sedekah, dan pertolongan sosial adalah bentuk ibadah yang konkret.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tamu mana pun yang singgah pada suatu kaum, lalu ia tidak dijamu, maka ia boleh mengambil sekadar untuk suguhannya dan tidak berdosa.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Pesannya jelas: harta bukan hak mutlak, melainkan titipan sosial. Dalam istilah Qardhawi, manusia hanyalah mustakhlaf—pemegang amanah dari Allah. Maka setiap rupiah yang dibelanjakan harus kembali pada nilai kemaslahatan.

Jadi, kesederhanaan dalam berinfak bukan berarti miskin, dan kekayaan bukan berarti dosa. Qardhawi menulis, Islam bukan agama yang memuji kefakiran, juga bukan yang menuhankan kekayaan. Ia adalah jalan tengah: menikmati yang halal tanpa berlebihan, memberi tanpa kehilangan arah. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan,” (QS. Al-A’raf [7]: 31).

Dan mungkin, dalam ayat ini, tersimpan kunci kebahagiaan paling sederhana: cukup itu cukup, selama kita tahu untuk apa ia digunakan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
TOPIK TERPOPULER
Terpopuler 0 doa
4 snbt
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)