Di tengah budaya konsumtif, Islam menegaskan kesederhanaan bukan tanda miskin, tapi kesadaran. Berinfak tak diukur jumlahnya, melainkan keseimbangan antara kenikmatan, tanggung jawab, dan empati sosial.
Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang rajin berinfak. Terlebih melakukannya dengan sembunyi-sembunyi agar amal baiknya tersebut tidak diketahui orang lain.
Infak yang dilakukan harus benar-benar ikhlas di jalan Allah tanpa harus mengumbar hingga amalan tersebut menjadi riya. Sebab riya merupakan salah satu yang dibenci Allah SWT.
Pria berusia 40 tahun ini turut mengingatkan agar setiap mukmin tidak terlena dengan nikmat yang Allah berikan. Kendati menikmati hidup tidak dilarang dalam agama.
Berbisnis dengan Allah SWT merupakan hal yang menguntungkan. Caranya hanya dengan menginvestasikan harta lewat orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.
Orang yang sehat mental akan terhindar dari rasa cemas, stres, dan depresi karena ia memiliki kemampuan adaptasi dan menyelesaikan masalah dengan baik.
Ustaz Andian Parlindungan mengatakan bahwa mental orang-orang yang bertakwa berada di atas rata-rata manusia biasa. Seba, pada bulan puasa umat Islam dididik untuk memiliki mental pemenang.
Khalid Basalamah mengatakan menjadi kebiasaan masyarakat di Indonesia sibuk berbelanja kebutuhan lebaran di akhir Ramadhan, seperti membeli baju lebaran. Padahal perintah Nabi adalah lebih menggiatkan ibadah di akhir Ramadhan.