Sejarah Islam Nusantara: Dari Al-Quran ke Injil
Miftah yusufpati
Sabtu, 01 November 2025 - 04:15 WIB
Di Indramayu akhir abad ke-19, seorang santri bernama Kartawidjaja menukar Al-Quran dengan Injil. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID – Indramayu, 1899. Di sebuah rumah kayu di tepi kali, seorang pria paruh baya duduk di depan meja, menyalin ayat-ayat Alkitab dengan tulisan Jawa halus. Namanya Kartawidjaja, seorang bekas santri yang kini disebut “pengkhianat” oleh kaumnya sendiri. Beberapa bulan sebelumnya, ia masih dikenal sebagai Demang Luwung Malang, seorang pejabat pribumi yang tekun beribadah dan fasih membaca tafsir klasik. Kini, ia baru saja dibaptis pada hari Natal—meninggalkan Al-Quran, dan memeluk Injil.
Dalam catatan autobiografinya yang diterbitkan oleh Misi Djoentikebon, berjudul Van Koran tot Bijbel(“Dari Quran ke Injil”), kisah Kartawidjaja melampaui perjalanan spiritual pribadi. Ia adalah potret pertemuan dua dunia: Islam tradisional pesantren dan modernitas kolonial yang datang bersama para misionaris Belanda di akhir abad ke-19.
Laffan mencatat bahwa Kartawidjaja lahir sekitar 1850, cucu seorang ulama dan pejabat Landraad di Indramayu, Haji Patih Mas Muhammad Salih. Ia belajar di Pesantren Babakan, Cirebon, dan sempat mendalami tarekat Naqsyabandiyyah di bawah bimbingan para sayyid Arab. Namun, jalan hidupnya berbelok ketika ia masuk birokrasi kolonial. “Tulisan Arab tak berguna di kantor Belanda,” tulisnya. Ia pun belajar huruf Latin dan bahasa Belanda—simbol dari dunia baru yang menantang tatanan lama.
Selama dua dekade bekerja di berbagai jabatan administratif, Kartawidjaja mulai merasa hampa. Ia kembali ke kampung halamannya, menenggelamkan diri dalam tafsir dan zikir, sampai satu hari seorang sahabat lama datang dengan berita aneh: “Muhammad bukan nabi,” kata si tamu, Raden Wira Adibrata, seorang bangsawan yang telah dikristenkan oleh misionaris Belanda, J.L. Zegers. Kartawidjaja mengusirnya, tapi benih keraguan telah tertanam.
Atas izin gurunya, ia mulai membaca kutipan Injil dari dua pedagang Tionghoa. Tak lama, ia berhenti salat dan menghadiri misa Pastor O. van der Brug. “Dalam pikirannya,” tulis Laffan, “Kartawidjaja tetap seorang Muslim, karena belum dibaptis.” Tapi bagi masyarakatnya, ia telah murtad. Istrinya melarikan diri, rumahnya dilempari batu, dan para sayyid Arab mengutuknya di mimbar-mimbar masjid.
Injil dan Modernitas
Bagi para misionaris, kisah Kartawidjaja adalah trofi. Di tengah kegagalan misi Kristenisasi terhadap orang Jawa, satu “santri murtad” terasa seperti kemenangan kecil. Namun yang lebih menarik dari kisah ini bukan perpindahan imannya, melainkan argumen yang ia gunakan untuk membenarkannya.
Dalam catatan autobiografinya yang diterbitkan oleh Misi Djoentikebon, berjudul Van Koran tot Bijbel(“Dari Quran ke Injil”), kisah Kartawidjaja melampaui perjalanan spiritual pribadi. Ia adalah potret pertemuan dua dunia: Islam tradisional pesantren dan modernitas kolonial yang datang bersama para misionaris Belanda di akhir abad ke-19.
Laffan mencatat bahwa Kartawidjaja lahir sekitar 1850, cucu seorang ulama dan pejabat Landraad di Indramayu, Haji Patih Mas Muhammad Salih. Ia belajar di Pesantren Babakan, Cirebon, dan sempat mendalami tarekat Naqsyabandiyyah di bawah bimbingan para sayyid Arab. Namun, jalan hidupnya berbelok ketika ia masuk birokrasi kolonial. “Tulisan Arab tak berguna di kantor Belanda,” tulisnya. Ia pun belajar huruf Latin dan bahasa Belanda—simbol dari dunia baru yang menantang tatanan lama.
Selama dua dekade bekerja di berbagai jabatan administratif, Kartawidjaja mulai merasa hampa. Ia kembali ke kampung halamannya, menenggelamkan diri dalam tafsir dan zikir, sampai satu hari seorang sahabat lama datang dengan berita aneh: “Muhammad bukan nabi,” kata si tamu, Raden Wira Adibrata, seorang bangsawan yang telah dikristenkan oleh misionaris Belanda, J.L. Zegers. Kartawidjaja mengusirnya, tapi benih keraguan telah tertanam.
Atas izin gurunya, ia mulai membaca kutipan Injil dari dua pedagang Tionghoa. Tak lama, ia berhenti salat dan menghadiri misa Pastor O. van der Brug. “Dalam pikirannya,” tulis Laffan, “Kartawidjaja tetap seorang Muslim, karena belum dibaptis.” Tapi bagi masyarakatnya, ia telah murtad. Istrinya melarikan diri, rumahnya dilempari batu, dan para sayyid Arab mengutuknya di mimbar-mimbar masjid.
Injil dan Modernitas
Bagi para misionaris, kisah Kartawidjaja adalah trofi. Di tengah kegagalan misi Kristenisasi terhadap orang Jawa, satu “santri murtad” terasa seperti kemenangan kecil. Namun yang lebih menarik dari kisah ini bukan perpindahan imannya, melainkan argumen yang ia gunakan untuk membenarkannya.