Akibat Menyia-nyiakan Waktu: Manusia di Dalam Kerugian
Miftah yusufpati
Kamis, 06 November 2025 - 04:15 WIB
Waktu, adalah modal utama manusia. Ia netraltidak sial, tidak mujur. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Ada yang menyalahkan waktu atas nasibnya. “Sedang sial,” kata sebagian orang ketika gagal, atau “lagi mujur” ketika berhasil. Tapi Al-Qur’an, tulis Prof Dr M Quraish Shihab, justru membantah keyakinan itu secara tegas melalui surat pendek yang paling sering dihafal anak-anak: Al-‘Ashr.
“Tidak ada masa sial atau masa mujur,” tulisnya. “Yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang. Masa selalu bersifat netral.”
Surat Al-‘Ashr dibuka dengan sumpah: Wal ‘ashr—demi masa. Bagi Quraish, kata ‘ashr bukan sekadar “waktu” dalam arti umum, melainkan “saat hasil perasan tenaga manusia”—masa ketika segala daya telah dikeluarkan, dan hasilnya tampak. Dalam bahasa Arab, akar kata ashara berarti “memeras sesuatu hingga keluar sari yang tersembunyi di dalamnya.” Maka, ketika Tuhan bersumpah dengan ‘ashr, itu berarti Ia menegaskan betapa berharganya waktu yang diperas dengan kerja, bukan waktu yang terbuang.
Namun sumpah itu segera diikuti vonis: “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS Al-‘Ashr [103]: 2).
Waktu sebagai Wadah Kerugian
Quraish Shihab mengurai kata khusr—rugi, sesat, celaka, lemah—yang dalam ayat itu berbentuk nakirah (indefinitif). Bentuk itu menandakan makna umum dan luas, sehingga khusr berarti “kerugian besar dan beraneka ragam.”
Lebih jauh, ia menyoroti kata fi (di dalam). Dalam ungkapan “manusia berada di dalam kerugian,” makna preposisi itu tidak sekadar “terkena kerugian,” tapi “tercelup di dalamnya.” Seperti baju yang seluruhnya di dalam lemari, manusia terbungkus total oleh kerugian—tak ada bagian diri yang selamat dari dampaknya.
“Tidak ada masa sial atau masa mujur,” tulisnya. “Yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang. Masa selalu bersifat netral.”
Surat Al-‘Ashr dibuka dengan sumpah: Wal ‘ashr—demi masa. Bagi Quraish, kata ‘ashr bukan sekadar “waktu” dalam arti umum, melainkan “saat hasil perasan tenaga manusia”—masa ketika segala daya telah dikeluarkan, dan hasilnya tampak. Dalam bahasa Arab, akar kata ashara berarti “memeras sesuatu hingga keluar sari yang tersembunyi di dalamnya.” Maka, ketika Tuhan bersumpah dengan ‘ashr, itu berarti Ia menegaskan betapa berharganya waktu yang diperas dengan kerja, bukan waktu yang terbuang.
Namun sumpah itu segera diikuti vonis: “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS Al-‘Ashr [103]: 2).
Waktu sebagai Wadah Kerugian
Quraish Shihab mengurai kata khusr—rugi, sesat, celaka, lemah—yang dalam ayat itu berbentuk nakirah (indefinitif). Bentuk itu menandakan makna umum dan luas, sehingga khusr berarti “kerugian besar dan beraneka ragam.”
Lebih jauh, ia menyoroti kata fi (di dalam). Dalam ungkapan “manusia berada di dalam kerugian,” makna preposisi itu tidak sekadar “terkena kerugian,” tapi “tercelup di dalamnya.” Seperti baju yang seluruhnya di dalam lemari, manusia terbungkus total oleh kerugian—tak ada bagian diri yang selamat dari dampaknya.