home masjid

Fenomena Streamer dan Saweran: Antara Kreativitas Digital dan Etika Syariat

Jum'at, 07 November 2025 - 05:15 WIB
Di balik layar hiburan, muncul tanya etis: apakah gift digital ini sedekah modern, bentuk apresiasi, atau justru gaya baru meminta-minta? Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Suara notifikasi dan emoji hati berloncatan di layar. Seorang streamer muda menari di depan kamera sambil tersenyum ke arah penontonnya. Di pojok layar, muncul ikon “gift” berbentuk mawar dan kapal pesiar digital—tanda penonton sedang memberi saweran. “Terima kasih yang sudah support!” serunya riang, sebelum melanjutkan aksi yang ditonton ribuan orang di TikTok.

Fenomena ini kini menjelma menjadi salah satu profesi paling populer di era digital. Streamer, sebutan bagi mereka yang menyiarkan aktivitas secara langsung melalui media sosial, hadir di berbagai platform: YouTube, TikTok, Twitch, dan Instagram. Sebagian di antaranya menghasilkan pendapatan jutaan rupiah per bulan dari saweran penonton.

Namun, di balik gegap gempita dunia live streaming, muncul pertanyaan etis: bagaimana pandangan Islam terhadap profesi yang menggantungkan hidup dari “gift” atau saweran digital?

Pertanyaan itu disorot oleh Ustaz Mukhlis Rahmanto, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dalam Pengajian Tarjih daring, Rabu (5/11). Ia menyebut, fenomena streamer dan budaya saweran perlu dilihat bukan sekadar sebagai tren hiburan, tetapi juga dari sudut pandang syariat.

“Sekarang banyak orang bisa siaran langsung 24 jam, dan penontonnya bukan hanya menonton, tetapi juga memberi gift atau saweran,” kata Mukhlis. “Profesi ini tidak serta-merta haram, tapi harus dilihat dari niat dan manfaatnya.”

Menurutnya, Nabi Muhammad Saw melarang penghasilan dari hal yang jelas haram, seperti upah pelacuran—sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Bukhari dan Muslim. Tapi profesi streamer tidak termasuk kategori itu, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

“Kalau tujuannya dakwah, edukasi, atau hiburan yang bermanfaat, maka boleh. Tapi kalau sekadar mencari simpati atau menggantungkan hidup dari saweran, itu perlu diwaspadai,” tegasnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya