home masjid

Manusia: Antara Tanah dan Roh Ilahi

Sabtu, 08 November 2025 - 05:57 WIB
Proses kejadian manusia menunjukkan bahwa ia tidak hanya terdiri dari unsur jasmani, tetapi juga ruhani yang menghubungkannya dengan Allah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah,” demikian firman Allah dalam QS Shad [38]: 71. Satu kalimat pendek yang menjadi titik mula perbincangan panjang tentang asal-usul manusia. Bagi Prof. Dr. M. Quraish Shihab, ayat ini tak hanya mengisahkan kejadian Adam, tetapi juga membuka pintu dialog abadi antara wahyu dan sains tentang penciptaan dan reproduksi manusia.

Dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan), Quraish Shihab menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggunakan dua cara penggambaran: penciptaan manusia pertama (Adam) dan reproduksi manusia sesudahnya. Ketika berbicara tentang Adam, Tuhan menunjuk Diri-Nya dalam bentuk tunggal — “Aku menciptakan dengan kedua tangan-Ku.” Namun, saat menggambarkan manusia secara umum, Al-Qur’an menggunakan bentuk jamak: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS At-Tin [95]: 4).

Perbedaan ini, tulis Quraish Shihab, bukan tanpa makna. “Penciptaan manusia secara umum melibatkan keterlibatan selain Tuhan — yakni ibu dan bapak,” katanya. Dalam proses reproduksi, unsur biologis dan psikis orang tua ikut memengaruhi sifat anak. Sementara Adam adalah ciptaan langsung, tanpa perantara.

Di Antara Tanah dan Nafas Ilahi

Al-Qur’an tidak menyinggung secara detail tahap penyempurnaan ciptaan Adam, selain menyebut bahwa bahan dasarnya adalah tanah, lalu “ditiupkan ke dalamnya ruh Ilahi” (QS Al-Hijr [15].Syaikh Muhammad Abduh, pembaharu Mesir abad ke-19, menyatakan, seandainya teori evolusi Darwin terbukti secara ilmiah, “tidak ada alasan teologis untuk menolaknya.” Bagi Abduh — dan juga Quraish Shihab — Al-Qur’an tidak sedang berdebat dengan laboratorium. Ia berbicara tentang makna di balik proses, bukan mekanismenya.

Abbas al-Aqqad, intelektual Mesir dalam Al-Insan fi al-Qur’an, juga berpendapat senada. Menurutnya, kaum Muslim bebas menerima atau menolak teori evolusi berdasarkan penelitian ilmiah “tanpa melibatkan Al-Qur’an sedikit pun,” sebab kitab suci itu tidak menjelaskan rincian teknis kejadian manusia pertama.

Shihab memaknai pandangan ini sebagai ajakan untuk mengharmonikan dua kutub pengetahuan — wahyu dan sains. “Sains menjelaskan bagaimana, wahyu menjawab mengapa,” tulisnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya