Din Syamsuddin dan Tan Sri Lee Kim Yew Padukan Nilai Islam dan Tionghoa dalam World Peace Forum ke 9
Nabil
Ahad, 09 November 2025 - 23:02 WIB
Din Syamsuddin dan Tan Sri Lee Kim Yew Padukan Nilai Islam dan Tionghoa dalam World Peace Forum ke 9
LANGIT7.ID–Jakarta; Dua tokoh lintas iman dan peradaban, Chairman of CDCC & Chairman of Global Fulcrum of Wasatiyyat
Islam, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin dan Chairman of Chengho Multi Culture and Education Trust, Tan Sri Lee Kim Yew, menyerukan agar dunia kembali ke konsep jalan tengah sebagai solusi atas ekstremitas global.
Seruan itu disampaikan keduanya dalam pembukaan World Peace Forum (WPF) ke-9 di Jakarta, yang diselenggarakan oleh Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) bersama Cheng Hoo Multicultural Education Trust Malaysia, Global Forum of Wasathiyat Islam, dan Muhammadiyah.
Dalam pidatonya, Prof. Din Syamsuddin menegaskan bahwa dunia saat ini tengah berada dalam kondisi tidak teratur, penuh ketidakpastian, dan mengalami kerusakan global yang bersifat kumulatif akibat ekstremitas sekularisme dan liberalisasi yang berlebihan. Ia menyerukan agar dunia kembali kepada prinsip Wasathiyat Islam—jalan tengah yang mengedepankan keseimbangan dan moderasi.
“Karena adanya sikap ekstrem, sistem dunia telah jatuh dalam ekstremitas yang berakar pada humanisme sekuler, yang membuka jalan bagi liberalisasi dalam politik, ekonomi, dan juga budaya. Karena itu, kami percaya bahwa jalan tengah dari Islam maupun dari agama-agama lain adalah solusi,” ujar Prof Din dalam pembukaan acara World Peace Forum ke-9 di Galeri Nasional, Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Prof Din juga memperkenalkan Tan Sri Lee Kim Yew sebagai saudara tua sekaligus rekan seperjuangan lintas peradaban. Ia menyebut Lee sebagai sosok penuh gagasan dan tindakan nyata.
“Ia adalah kakak saya, meski memang usianya lebih tua dari saya,” kata Din sambil tersenyum.
Islam, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin dan Chairman of Chengho Multi Culture and Education Trust, Tan Sri Lee Kim Yew, menyerukan agar dunia kembali ke konsep jalan tengah sebagai solusi atas ekstremitas global.
Seruan itu disampaikan keduanya dalam pembukaan World Peace Forum (WPF) ke-9 di Jakarta, yang diselenggarakan oleh Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) bersama Cheng Hoo Multicultural Education Trust Malaysia, Global Forum of Wasathiyat Islam, dan Muhammadiyah.
Dalam pidatonya, Prof. Din Syamsuddin menegaskan bahwa dunia saat ini tengah berada dalam kondisi tidak teratur, penuh ketidakpastian, dan mengalami kerusakan global yang bersifat kumulatif akibat ekstremitas sekularisme dan liberalisasi yang berlebihan. Ia menyerukan agar dunia kembali kepada prinsip Wasathiyat Islam—jalan tengah yang mengedepankan keseimbangan dan moderasi.
“Karena adanya sikap ekstrem, sistem dunia telah jatuh dalam ekstremitas yang berakar pada humanisme sekuler, yang membuka jalan bagi liberalisasi dalam politik, ekonomi, dan juga budaya. Karena itu, kami percaya bahwa jalan tengah dari Islam maupun dari agama-agama lain adalah solusi,” ujar Prof Din dalam pembukaan acara World Peace Forum ke-9 di Galeri Nasional, Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Prof Din juga memperkenalkan Tan Sri Lee Kim Yew sebagai saudara tua sekaligus rekan seperjuangan lintas peradaban. Ia menyebut Lee sebagai sosok penuh gagasan dan tindakan nyata.
“Ia adalah kakak saya, meski memang usianya lebih tua dari saya,” kata Din sambil tersenyum.