home masjid

Sesungguhnya Allah Itu Indah dan Mencintai Keindahan

Selasa, 11 November 2025 - 05:15 WIB
Islam bukan menolak keindahan, tapi menempatkannya sebagai cermin imanselaras antara lahir, batin, dan kebenaran. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID – Di tengah dunia yang sering menempatkan religiusitas di hadapan kesederhanaan ekstrem dan menjauhi simbol keindahan, hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Muslim terasa seperti penegasan moral yang lembut namun revolusioner: “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”

Kalimat itu tak sekadar pesan spiritual, melainkan juga penanda bahwa Islam menempatkan estetika—baik dalam penampilan, arsitektur, maupun moral—sebagai bagian dari ibadah. Di tangan Nabi, keindahan tak berhenti pada rupa, tapi berakar pada sikap: menolak kesombongan, mencintai kebenaran, dan memperlakukan manusia dengan kasih.

Riwayat Ibnu Mas’ud dalam Shahih Muslim menjelaskan konteks yang sering disalahpahami. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi: apakah kecintaan pada pakaian dan sandal yang bagus termasuk kesombongan? Nabi menjawab, “Tidak. Sesungguhnya Allah itu indah, dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”

Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah (Citra Islami Press, 1997), menafsirkan hadis ini sebagai keseimbangan antara spiritualitas dan estetika. “Islam tidak memerintahkan hidup dalam kejorokan atau berpakaian lusuh demi kesalehan,” tulisnya. “Justru, Islam memerintahkan kebersihan, kerapian, dan keindahan sebagai manifestasi iman.”

Keindahan dalam pandangan Islam, kata Qardhawi, bukan soal pamer, tapi keselarasan antara lahir dan batin—antara busana yang rapi dan hati yang tunduk.

Dari Ruhani ke Ruang Publik

Dalam sejarah Islam, pesan ini menemukan bentuk dalam kebudayaan. Arsitektur masjid di Andalusia, Persia, hingga Nusantara menunjukkan bagaimana keindahan menjadi bahasa ketuhanan. Titus Burckhardt, dalam Art of Islam: Language and Meaning (World of Islam Festival Publishing, 1976), menyebut seni Islam sebagai “pencarian harmoni antara bentuk dan makna.” Ornamen-ornamen geometris dan kaligrafi bukan hiasan kosong, tetapi meditasi visual atas keteraturan ciptaan Allah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya