home masjid

Kebangsaan yang Bersujud: Islam, Adat, dan Cinta Tanah Air dalam Tafsir Quraish Shihab

Rabu, 12 November 2025 - 05:45 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Narasi
LANGIT7.ID - Di tengah maraknya perdebatan soal nasionalisme dan identitas keagamaan, pandangan lama dari mufasir Indonesia, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, kembali menemukan relevansinya. Dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan, 1997), ia menegaskan bahwa paham kebangsaan sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan, unsur-unsur yang melahirkan rasa kebangsaan—adat istiadat, sejarah, dan cinta tanah air—menurutnya, “inklusif dalam ajaran Al-Qur’an.”

Pandangan ini terasa jernih di tengah situasi sosial-politik yang kerap memperhadapkan keislaman dengan nasionalisme. Quraish Shihab justru membalik perspektif itu: menjadi Muslim yang baik berarti menjadi warga bangsa yang baik.

Bagi Quraish Shihab, pikiran dan perasaan suatu umat tercermin dalam adat istiadatnya. Al-Qur’an sendiri, katanya, tidak menolak adat, bahkan mengakuinya selama tak bertentangan dengan prinsip al-khair—kebaikan universal dalam ajaran Islam.

Ia mengutip dua ayat kunci: “Hendaklah ada sekelompok di antara kamu yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar” (QS Ali ‘Imran [3]: 104), dan “Jadilah engkau pemaaf; titahkanlah yang ‘urf (adat kebiasaan yang baik), dan berpalinglah dari orang yang jahil” (QS Al-A’raf [7]: 199).

Kata ‘urf dan ma’ruf, menurut Quraish Shihab, menunjukkan pengakuan Al-Qur’an terhadap kebiasaan sosial selama tidak menyimpang dari nilai kebaikan. Dalam ushul fiqh, prinsip ini dikenal sebagai al-‘adah muhakkamah — adat kebiasaan dapat menjadi dasar hukum bila tidak bertentangan dengan nash. “Islam tidak datang untuk menghapus seluruh adat,” tulisnya, “tetapi untuk memperbaiki dan meluruskannya.”

Ia mengutip kisah dari Imam Bukhari: ketika Sayyidah Aisyah menikahkan seorang gadis yatim dari kerabatnya dengan pemuda Anshar, Nabi bertanya, “Apakah tidak ada nyanyian? Karena orang-orang Anshar senang mendengarkan nyanyian.”

Rasulullah, kata Quraish Shihab, menghormati budaya lokal. Ia tidak menghapus tradisi, tapi memberi makna baru yang selaras dengan tauhid.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya