Kisah Utsman bin Affan Masuk Islam: Ketika Akal dan Hati Bertemu dalam Iman
Miftah yusufpati
Rabu, 12 November 2025 - 15:22 WIB
Masuknya Islam ke hati Utsman bin Affan bukan karena mukjizat, tapi hasil perenungan rasional dan kejernihan batin. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID – Masuknya Islam ke dalam hati Utsman bin Affan adalah salah satu kisah paling lembut dan rasional dalam sejarah awal kenabian. Ia bukan sekadar peristiwa spiritual, melainkan pertemuan antara akal, hati, dan kebijaksanaan dalam mencari kebenaran.
Menurut Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Utsman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan(diterjemahkan oleh Ali Audah, Pustaka Litera AntarNusa), keislaman Utsman terjadi bukan karena tekanan sosial atau desakan emosional, melainkan hasil perenungan panjang yang didorong oleh keyakinan logis dan suara hati yang tenang.
Dalam riwayat yang dikutip al-Hafiz Ibn Asakir, Utsman mula-mula mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad SAW menikahkan putrinya, Ruqayyah, dengan sepupunya, Utbah bin Abi Lahab. Ia menyesal bukan karena urusan cinta semata, melainkan karena merasa kehilangan kesempatan untuk dekat dengan keluarga Muhammad yang dikenal jujur dan berakhlak mulia.
Dalam kebingungan itu, ia bertemu bibinya, Sa’diyah binti Kuraiz, seorang perempuan yang dikenal sebagai tabib dan peramal di kalangan Quraisy. Sa’diyah menuturkan kepadanya kabar yang terdengar aneh bagi Utsman: bahwa Muhammad bin Abdullah adalah utusan Allah, membawa ajaran yang akan memisahkan kebenaran dari kebatilan. “Ikutlah dia,” kata sang bibi, “engkau tidak akan tertipu oleh berhala.”
Utsman sempat tertegun. “Perkara seperti ini belum pernah terjadi di negeri kita,” ujarnya heran. Namun, benih keyakinan telah tumbuh di hatinya.
Dialog dengan Abu Bakar
Keputusan itu semakin menguat setelah pertemuannya dengan Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat karib Nabi yang dikenal jernih akalnya. Dalam percakapan mereka, Abu Bakar menantang logika Utsman: “Apa gunanya berhala yang disembah kaummu itu? Bukankah itu hanya batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak menolong dan tidak memberi mudarat?”
Menurut Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Utsman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan(diterjemahkan oleh Ali Audah, Pustaka Litera AntarNusa), keislaman Utsman terjadi bukan karena tekanan sosial atau desakan emosional, melainkan hasil perenungan panjang yang didorong oleh keyakinan logis dan suara hati yang tenang.
Dalam riwayat yang dikutip al-Hafiz Ibn Asakir, Utsman mula-mula mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad SAW menikahkan putrinya, Ruqayyah, dengan sepupunya, Utbah bin Abi Lahab. Ia menyesal bukan karena urusan cinta semata, melainkan karena merasa kehilangan kesempatan untuk dekat dengan keluarga Muhammad yang dikenal jujur dan berakhlak mulia.
Dalam kebingungan itu, ia bertemu bibinya, Sa’diyah binti Kuraiz, seorang perempuan yang dikenal sebagai tabib dan peramal di kalangan Quraisy. Sa’diyah menuturkan kepadanya kabar yang terdengar aneh bagi Utsman: bahwa Muhammad bin Abdullah adalah utusan Allah, membawa ajaran yang akan memisahkan kebenaran dari kebatilan. “Ikutlah dia,” kata sang bibi, “engkau tidak akan tertipu oleh berhala.”
Utsman sempat tertegun. “Perkara seperti ini belum pernah terjadi di negeri kita,” ujarnya heran. Namun, benih keyakinan telah tumbuh di hatinya.
Dialog dengan Abu Bakar
Keputusan itu semakin menguat setelah pertemuannya dengan Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat karib Nabi yang dikenal jernih akalnya. Dalam percakapan mereka, Abu Bakar menantang logika Utsman: “Apa gunanya berhala yang disembah kaummu itu? Bukankah itu hanya batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak menolong dan tidak memberi mudarat?”