Makanan, Jiwa, dan Moralitas: Ketika Santapan Menyentuh Dimensi Spiritual
Miftah yusufpati
Kamis, 13 November 2025 - 05:45 WIB
Di meja makan, manusia tak sekadar memenuhi perut. Ia sedang berinteraksi dengan dimensi paling dalam dari keberadaannya: jiwa. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di meja makan, manusia tak sekadar memenuhi perut. Ia sedang berinteraksi dengan dimensi paling dalam dari keberadaannya: jiwa. Itulah pesan yang berulang kali disuarakan oleh Al-Qur’an, para ulama klasik, hingga ilmuwan modern. Bahwa makanan bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga moralitas, spiritualitas, dan bahkan nasib bangsa.
Dalam Wawasan Al-Qur’an(Mizan, 1996), Prof. Dr. M. Quraish Shihab menegaskan, makanan yang halal dan thayyib—baik dan menenteramkan—adalah fondasi keseimbangan hidup. Namun, dalam bagian tentang Pengaruh Makanan, ia melangkah lebih jauh. Ia menyinggung ulama abad ke-13, al-Harali (w. 1232 M), yang menafsirkan kata rijs dalam Al-Qur’an—yang menjadi alasan pengharaman bangkai, darah, dan daging babi (QS Al-An’am [6]:145)—sebagai “keburukan budi pekerti serta kebobrokan moral.”
Maknanya jelas: yang kotor bukan sekadar tubuh, tapi akhlak. Ketika Al-Qur’an mengharamkan sesuatu karena *rijs*, itu bukan sekadar menjaga kesehatan, tapi menegakkan moral. Makanan, bagi al-Harali, adalah jembatan antara jasmani dan ruhani.
“Setiap yang dikunyah akan beresonansi dalam jiwa,” tulis Quraish Shihab, menegaskan tafsir al-Harali. Makanan, dengan demikian, menjadi medium pembentukan karakter.
Ilmu Modern Menyusul
Pandangan spiritual itu kini menemukan gaungnya dalam dunia ilmiah. Alexis Carrel, peraih Nobel Kedokteran 1912, dalam bukunya Man the Unknown(1935), menulis: “Perasaan manusia dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan.” Ia mengakui bahwa hubungan kimiawi antara nutrisi dan aktivitas psikis belum sepenuhnya dipahami, tapi bukti-bukti empiris tak bisa diabaikan.
Psikolog nutrisi modern seperti Michael Gershon, dalam The Second Brain(1998), bahkan menemukan bahwa sistem pencernaan memiliki lebih dari 100 juta neuron—cukup untuk membuat “otak kedua” di usus manusia. Makanan yang buruk tak hanya mengacaukan metabolisme, tapi juga memengaruhi kestabilan emosi dan daya pikir.
Dalam Wawasan Al-Qur’an(Mizan, 1996), Prof. Dr. M. Quraish Shihab menegaskan, makanan yang halal dan thayyib—baik dan menenteramkan—adalah fondasi keseimbangan hidup. Namun, dalam bagian tentang Pengaruh Makanan, ia melangkah lebih jauh. Ia menyinggung ulama abad ke-13, al-Harali (w. 1232 M), yang menafsirkan kata rijs dalam Al-Qur’an—yang menjadi alasan pengharaman bangkai, darah, dan daging babi (QS Al-An’am [6]:145)—sebagai “keburukan budi pekerti serta kebobrokan moral.”
Maknanya jelas: yang kotor bukan sekadar tubuh, tapi akhlak. Ketika Al-Qur’an mengharamkan sesuatu karena *rijs*, itu bukan sekadar menjaga kesehatan, tapi menegakkan moral. Makanan, bagi al-Harali, adalah jembatan antara jasmani dan ruhani.
“Setiap yang dikunyah akan beresonansi dalam jiwa,” tulis Quraish Shihab, menegaskan tafsir al-Harali. Makanan, dengan demikian, menjadi medium pembentukan karakter.
Ilmu Modern Menyusul
Pandangan spiritual itu kini menemukan gaungnya dalam dunia ilmiah. Alexis Carrel, peraih Nobel Kedokteran 1912, dalam bukunya Man the Unknown(1935), menulis: “Perasaan manusia dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan.” Ia mengakui bahwa hubungan kimiawi antara nutrisi dan aktivitas psikis belum sepenuhnya dipahami, tapi bukti-bukti empiris tak bisa diabaikan.
Psikolog nutrisi modern seperti Michael Gershon, dalam The Second Brain(1998), bahkan menemukan bahwa sistem pencernaan memiliki lebih dari 100 juta neuron—cukup untuk membuat “otak kedua” di usus manusia. Makanan yang buruk tak hanya mengacaukan metabolisme, tapi juga memengaruhi kestabilan emosi dan daya pikir.