LANGIT7.ID- Di meja makan, manusia tak sekadar memenuhi perut. Ia sedang berinteraksi dengan dimensi paling dalam dari keberadaannya: jiwa. Itulah pesan yang berulang kali disuarakan oleh Al-Qur’an, para ulama klasik, hingga ilmuwan modern. Bahwa makanan bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga moralitas, spiritualitas, dan bahkan nasib bangsa.
Dalam
Wawasan Al-Qur’an (Mizan, 1996), Prof. Dr. M. Quraish Shihab menegaskan, makanan yang halal dan
thayyib—baik dan menenteramkan—adalah fondasi keseimbangan hidup. Namun, dalam bagian tentang Pengaruh Makanan, ia melangkah lebih jauh. Ia menyinggung ulama abad ke-13, al-Harali (w. 1232 M), yang menafsirkan kata rijs dalam Al-Qur’an—yang menjadi alasan pengharaman bangkai, darah, dan daging babi (QS Al-An’am [6]:145)—sebagai “keburukan budi pekerti serta kebobrokan moral.”
Maknanya jelas: yang kotor bukan sekadar tubuh, tapi akhlak. Ketika Al-Qur’an mengharamkan sesuatu karena *rijs*, itu bukan sekadar menjaga kesehatan, tapi menegakkan moral. Makanan, bagi al-Harali, adalah jembatan antara jasmani dan ruhani.
“Setiap yang dikunyah akan beresonansi dalam jiwa,” tulis Quraish Shihab, menegaskan tafsir al-Harali. Makanan, dengan demikian, menjadi medium pembentukan karakter.
Ilmu Modern MenyusulPandangan spiritual itu kini menemukan gaungnya dalam dunia ilmiah. Alexis Carrel, peraih Nobel Kedokteran 1912, dalam bukunya
Man the Unknown (1935), menulis: “Perasaan manusia dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan.” Ia mengakui bahwa hubungan kimiawi antara nutrisi dan aktivitas psikis belum sepenuhnya dipahami, tapi bukti-bukti empiris tak bisa diabaikan.
Psikolog nutrisi modern seperti Michael Gershon, dalam
The Second Brain (1998), bahkan menemukan bahwa sistem pencernaan memiliki lebih dari 100 juta neuron—cukup untuk membuat “otak kedua” di usus manusia. Makanan yang buruk tak hanya mengacaukan metabolisme, tapi juga memengaruhi kestabilan emosi dan daya pikir.
Penelitian terbaru yang diterbitkan di
Frontiers in Nutrition (2023) menunjukkan keterkaitan kuat antara konsumsi tinggi gula dan lemak trans dengan peningkatan risiko depresi. Artinya, makanan memang berbicara langsung kepada sistem saraf dan emosi.
Spiritualitas di Tengah GiziBagi Quraish Shihab, pengaruh makanan pada jiwa bukanlah simbolik, melainkan kausal. Ia mengutip hadis dari Imam Muslim: seorang lelaki yang berdoa dengan penuh pengharapan tidak akan dikabulkan jika makanannya berasal dari yang haram. “Maka bagaimana mungkin ia dikabulkan?” sabda Nabi Saw.
Pesan itu melampaui tafsir moral biasa: makanan yang haram bukan hanya menutup jalan gizi, tapi juga menutup jalan doa. Dalam teologi Islam, keberkahan (
barakah) bukan hasil dari kalori, melainkan dari kesucian sumbernya.
Ulama kontemporer Syaikh Taqi Falsafi, dalam
Child Between Heredity and Education, memperkuat argumen ini dengan rujukan ilmiah. Ia menyebutkan bahwa kualitas moral dan kecerdasan anak bisa terbentuk sejak dalam kandungan, bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi sang ibu. “Nutrisi yang buruk bukan hanya melemahkan tubuh, tapi menggelapkan nurani,” tulisnya, mengutip pandangan ilmuwan dan ulama.
Perspektif ini menantang cara pandang modern yang memisahkan biologi dari etika. Dalam tafsir dan ilmu modern, makanan memengaruhi bukan hanya berat badan, tapi juga beratnya tanggung jawab moral.
Tak mengherankan, peradaban Islam klasik menempatkan etika makan setara dengan ibadah. Imam al-Ghazali dalam
Ihya Ulumuddin menulis, “Makan adalah permulaan jalan ibadah. Siapa yang makan dari yang kotor, tidak akan sampai kepada yang suci.”
Kini, di tengah maraknya pangan olahan, minuman berpemanis, dan budaya konsumtif, peringatan itu terasa relevan. Mungkin, seperti disebut Quraish Shihab, krisis moral masa kini tak bisa dilepaskan dari krisis kesadaran tentang apa yang kita makan.
Seperti Al-Qur’an berpesan dalam QS Al-A’raf [7]:31: “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan.” Ayat sederhana itu mengandung panduan yang kini diakui oleh dunia sains—tentang keseimbangan gizi, keberlanjutan alam, hingga pengendalian diri.
Makanan bukan hanya bahan bakar tubuh, melainkan cermin jiwa. Ia bisa menyehatkan, tapi juga menyesatkan. Dan dalam suapan terakhir hari ini, barangkali tersimpan arah masa depan manusia—sehat jasmani, bening rohani.
(mif)