Kisah Cinta Utsman bin Affan dan Ruqayyah: Cahaya dari Rumah Rasulullah
Miftah yusufpati
Kamis, 13 November 2025 - 17:00 WIB
Cinta dan iman bertaut di rumah kecil Usman bin Affan dan Ruqayyah binti Muhammad Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah panasnya gurun Makkah, pada masa ketika ajaran Muhammad baru berbisik pelan di telinga Quraisy, seorang pedagang kaya bernama Utsman bin Affan jatuh cinta. Bukan kepada kekuasaan, bukan pula pada harta, tetapi pada seorang perempuan muda yang lembut dan beriman—Ruqayyah binti Muhammad.
Dalam Utsman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan karya Muhammad Husain Haekal (Pustaka Litera AntarNusa, 1997), kisah ini ditulis dengan nada ragu sekaligus reflektif. “Saya tidak tahu,” tulis Haekal, “adakah tertariknya Utsman kepada Ruqayyah itu ada pengaruhnya dalam keislamannya.”
Keraguan itu penting: sebab sejarah Islam, tulis Haekal, bukan sekadar kumpulan kisah suci, melainkan pertemuan manusia dengan takdir—kadang melalui cinta.
Ruqayyah adalah putri Rasulullah SAW dan Khadijah. Ia dikenal lembut, sabar, dan penuh kasih. Dalam catatan al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibn Katsir, disebut bahwa Utsman menikahinya sebelum hijrah ke Habasyah. Usia Ruqayyah belum genap dua puluh tahun, sementara Utsman mendekati empat puluh—seorang pria matang yang sebelumnya telah menikah di masa jahiliah.
Mereka hidup sederhana, jauh dari kemewahan Quraisy. Ketika tekanan terhadap kaum Muslim meningkat, keduanya termasuk rombongan pertama yang hijrah ke Habasyah. Dalam riwayat Ibn Sa’ad di Thabaqat al-Kubra, Nabi SAW berkata: “Mereka adalah rumah pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth.”
Kisah ini bukan sekadar pelarian politik, melainkan keputusan cinta dan iman. Dalam analisis Haekal, Utsman bukan hanya mengikuti istrinya, tapi menemukan arah hidup baru melalui kebersamaan itu.
Dari Kekayaan ke Pengorbanan
Dalam Utsman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan karya Muhammad Husain Haekal (Pustaka Litera AntarNusa, 1997), kisah ini ditulis dengan nada ragu sekaligus reflektif. “Saya tidak tahu,” tulis Haekal, “adakah tertariknya Utsman kepada Ruqayyah itu ada pengaruhnya dalam keislamannya.”
Keraguan itu penting: sebab sejarah Islam, tulis Haekal, bukan sekadar kumpulan kisah suci, melainkan pertemuan manusia dengan takdir—kadang melalui cinta.
Ruqayyah adalah putri Rasulullah SAW dan Khadijah. Ia dikenal lembut, sabar, dan penuh kasih. Dalam catatan al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibn Katsir, disebut bahwa Utsman menikahinya sebelum hijrah ke Habasyah. Usia Ruqayyah belum genap dua puluh tahun, sementara Utsman mendekati empat puluh—seorang pria matang yang sebelumnya telah menikah di masa jahiliah.
Mereka hidup sederhana, jauh dari kemewahan Quraisy. Ketika tekanan terhadap kaum Muslim meningkat, keduanya termasuk rombongan pertama yang hijrah ke Habasyah. Dalam riwayat Ibn Sa’ad di Thabaqat al-Kubra, Nabi SAW berkata: “Mereka adalah rumah pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth.”
Kisah ini bukan sekadar pelarian politik, melainkan keputusan cinta dan iman. Dalam analisis Haekal, Utsman bukan hanya mengikuti istrinya, tapi menemukan arah hidup baru melalui kebersamaan itu.
Dari Kekayaan ke Pengorbanan