Sejarah Masjid Jami Al Mansur dan Potret Bangunan yang Orinisil Sampai Sekarang
Fajar adhitya
Jum'at, 08 Oktober 2021 - 18:15 WIB
Sejarah Masjid Jami Al Mansur. (Foto: Langit7/Suandri).
Sejarah Masjid Jami Al Mansur berawal pada 1717. Usia rumah ibadah tersebut sudah 300 tahun atau tiga abad lamanya, namun bangunannya masih orisinil sampai sekarang.
Masjid Jami Al Mansur di Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, merupakan salah satu masjid tua yang didirikan putra Pangeran Cakrajaya dari Kerajaan Mataram Islam, Raden Abdul Mukhit.
Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan Masjid Jami Al Mansur sebagai Bangunan Cagar Budaya pada 1993. Artinya, masjid ini memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan.
Baca Juga: Renovasi Besar-besaran Masjid Jami Al Mansur setelah 84 Tahun
Pada awalnya, Masjid Jami Al Mansur dikenal sebagai Masjid Jami Kampung Sawah, sebuah langgar kecil berbentuk segi empat berukuran 12x14 meter persegi. Namanya berubah menjadi Al Mansur untuk mengenang jasa dan perjuangan ulama betawi, Guru Mansur yang memperluas masjid ini pada 1937.
Layaknya masjid-masjid kuno warisan Mataram Islam, masjid ini lekat dengan arsitektur Jawa yang terlihat dari penggunaan atap limasan bersusun tiga dengan puncak mahkota.
Masjid Jami Al Mansur di Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, merupakan salah satu masjid tua yang didirikan putra Pangeran Cakrajaya dari Kerajaan Mataram Islam, Raden Abdul Mukhit.
Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan Masjid Jami Al Mansur sebagai Bangunan Cagar Budaya pada 1993. Artinya, masjid ini memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan.
Baca Juga: Renovasi Besar-besaran Masjid Jami Al Mansur setelah 84 Tahun
Pada awalnya, Masjid Jami Al Mansur dikenal sebagai Masjid Jami Kampung Sawah, sebuah langgar kecil berbentuk segi empat berukuran 12x14 meter persegi. Namanya berubah menjadi Al Mansur untuk mengenang jasa dan perjuangan ulama betawi, Guru Mansur yang memperluas masjid ini pada 1937.
Layaknya masjid-masjid kuno warisan Mataram Islam, masjid ini lekat dengan arsitektur Jawa yang terlihat dari penggunaan atap limasan bersusun tiga dengan puncak mahkota.