LANGIT7.ID, Jakarta - Sejarah
Masjid Jami Al Mansur berawal pada 1717. Usia rumah ibadah tersebut sudah 300 tahun atau tiga abad lamanya, namun bangunannya masih orisinil sampai sekarang.
Masjid Jami Al Mansur di Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, merupakan salah satu
masjid tua yang didirikan putra Pangeran Cakrajaya dari Kerajaan Mataram Islam, Raden Abdul Mukhit.
Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan Masjid Jami Al Mansur sebagai Bangunan Cagar Budaya pada 1993. Artinya, masjid ini memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan.
Baca Juga: Renovasi Besar-besaran Masjid Jami Al Mansur setelah 84 TahunPada awalnya, Masjid Jami Al Mansur dikenal sebagai Masjid Jami Kampung Sawah, sebuah langgar kecil berbentuk segi empat berukuran 12x14 meter persegi. Namanya berubah menjadi Al Mansur untuk mengenang jasa dan perjuangan ulama betawi, Guru Mansur yang memperluas masjid ini pada 1937.
Layaknya masjid-masjid kuno warisan Mataram Islam, masjid ini lekat dengan arsitektur Jawa yang terlihat dari penggunaan atap limasan bersusun tiga dengan puncak mahkota.
Berdasarkan konsep kosmologi Jawa, atap tajug tumpeng tiga memiliki makna 'Imam-Islam-Ihsan' seperti pada ajaran tiga pilar agama Islam. Dalam dimensi esoterik (lahir dan batin), atap tajug tumpeng tiga menyimbolkan 'SyariatThariqat-Hakekat-Makrifat'.
Kekhasan corak Mataram Islam juga terdapat pada empat soko guru yang kokoh dan tampak kekar yang menjadi penyanggah bangunan utama. Sebagaimana yang juga terdapat pada Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Sunan Ampel dan Masjid Agung Gedhe Kauman.
Empat soko guru ini mencerminkan empat aliran madzhab fiqih, yakni Madzhab Syafi'i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Selain itu, empat soko guru mengandung makna filosofi Sedulur Papat Limo Pancer yang memiliki makna spiritual mendalam pada kosmologi Jawa.
Empat soko guru terletak pada axis mundi atau poros bangunan induk masjid. Secara vertikal pun, bentuk atap tajug berjenjang tiga dengan model piramida mengerucut disatu titik puncak segaris dengan keempat soko guru pada tengah ruang shalat utama atau dalem.
Bagian bawah tiang-tiang ini bersegi delapan dan diatasnya terdapat pelipit penyangga, pelipit genta serta rata. Batang utama (di bagian tengah) berbentuk bulat dan dihiasi pelipit juga. Bagian teratas berbentuk persegi empat dan dibatasi pelipit.
Pada ketinggian setengah diantara keempat sokoguru terdapat balok-balok kayu antara lain untuk menopang kedua tangga yang menuju ke loteng. Di atas balok-balok selebar 55 cm itu di sisi kanan dan kiri dipasang pagar setinggi 80 cm. Pola pagar ini berbentuk belah ketupat.
Kisah Guru MansurGuru Mansur atau Muhammad Mansur adalah ulama tanah betawi yang namanya dinisbatkan pada masjid berusia tiga abad ini, "Al Mansur". Guru Mansur merupakan buyut dari dai kondang, pembina PPPA Daarul Quran, Yusuf Mansur.
Pada bulan ini, empat tahun lalu Anies menghadiri Haul ke-50 Guru Mansur, tepat tiga abad masjid berdiri. Kedatangan Anies kala itu sekaligus memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada hari Ahad, 22 Oktober 2017.
"Saya menyaksikan betapa bersejarahnya masjid ini. Masjid ini didirikan 1717, saya hadir 2017 persis 300 tahun kemudian," kata Anies.
Ia menyaksikan begitu banyak masyarakat muslim di ibu kota belajar agama di masjid ini. Menurutnya, Masjid Jami Al Mansur memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan Islam di Jakarta. Anies menyebut Masjid Jami Al Mansur adalah masjid perjuangan.
"Sejarawan Alwi Shahab menceritakan pada saat awal kemerdekaan di saat semua orang khawatir mengibarkan bendera merah putih, Guru Mansur mengibarkan merah putih di atas masjid ini," kata Anies.
Alwi Shahab dalam tulisannya di Republika menguraika, pada masa revolusi fisik dengan kolonialisme Belanda, Guru Mansur memancangkan Sang Saka Merah Putih pada menara masjid ini. Perlawanan Guru Mansur membuat pasukan belanda marah.
"Tidak heran, kalau masjid ini pada 1947-1948 pernah ditembaki dan digrebek tentara NICA. Kiai yang disapa Guru Mansur itu kemudian digiring ke markas polisi Belanda, yang kala itu terletak di Gambir, depan Museum Nasional. Saat diinterogasi oleh serdadu-serdadu Belanda, kiai patriotik yang wafat pada 1967 itu dengan tegas mengatakan, "Setiap bangsa punya bendera sendiri, seperti juga bangsa Belanda." tulis Alwi.
Mengenang kisah itu, Anies mengatakan bahwa masjid ini penuh catatn sejarah, ada sejarah perjuangan, sejarah menegakkan keadialan. "Sudah harusnya keberadaan Masjid Jami Al Mansur bukan hanya dirawat, tapi dipastikan anak-anak kita, cucu kita dapat melihat masjid ini terus berdiri tegak."
(bal)