Penderita Covid Komorbiditas Bisa Isoman di Rumah, Alhamdulillah Kembali Sehat
Zulkarmedi siregar
Rabu, 14 Juli 2021 - 13:04 WIB
Prof. Hermanto Siregar, pelaku isoman Covid-19 yang sembuh. Foto: Facebook Hermanto Siregar
Pasien penderita Covid-19 banyak yang sembuh. Mereka sembuh karena mendapatkan pengobatan yang intensif. Ditengah pandemi Covid-19 yang semakin mengganas, banyak rumah sakit yang tidak bisa menampung lagi. Untuk itu, perlu ada siasat. Salah satunya, terutama yang bergejala ringan bisa melakukan isolasi mandiri. Dan ini ternyata bisa dilakukan. Contoh nyata diuraikan langsung Prof. Hermanto Siregar seperti di bawah ini:
Bismillahirrohmanirrohim.
Sekitar 7-9 hari pertama, yaitu sejak isoman -3 (mulai ada gejala, sebelum tahu hasil swab PCR) adalah fase kritis, khususnya yang punya penyakit penyerta seperti saya. Saya ceritakan kronologis pengalaman saya ya. Semoga sharing ini bermanfaat.
Kamis 24/6 sore, kami ada rapat offline di rektorat IPB. Rabu malamnya saya di test antigen, negatif (syarat ikut rapat). Saat rapat saya ikuti prokes (tapi tidak pakai double masker, cuma satu lapis saja) dan tidak pernah buka masker walau sedang foto. Namun sempat di dalam ruangan tertutup dengan beberapa orang sekitar 15 menit.
Jumat 25/6 ada peserta rapat yang WA, bilang swab PCR-nya positif. Saya belum merasa ada gejala. Namun agak was-was sehingga memutuskan untuk tidak ikut Jumatan. Takutnya sudah positif dan bisa nularin ke jamaah sholat Jumat. Namun malamnya tenggorokan kurang nyaman dan mulai batuk dikit-dikit.
Sabtu 26/6, batuknya terus plus agak meriang. Saya mulai minum paracetamol hijau, madu asli dan habatussauda, tablet imboost, dan vit D3. Periksa saturasi O2 dan suhu tubuh, normal. Malamnya hidung mulai agak tersumbat, dan tidur tidak nyenyak.
Bismillahirrohmanirrohim.
Sekitar 7-9 hari pertama, yaitu sejak isoman -3 (mulai ada gejala, sebelum tahu hasil swab PCR) adalah fase kritis, khususnya yang punya penyakit penyerta seperti saya. Saya ceritakan kronologis pengalaman saya ya. Semoga sharing ini bermanfaat.
Kamis 24/6 sore, kami ada rapat offline di rektorat IPB. Rabu malamnya saya di test antigen, negatif (syarat ikut rapat). Saat rapat saya ikuti prokes (tapi tidak pakai double masker, cuma satu lapis saja) dan tidak pernah buka masker walau sedang foto. Namun sempat di dalam ruangan tertutup dengan beberapa orang sekitar 15 menit.
Jumat 25/6 ada peserta rapat yang WA, bilang swab PCR-nya positif. Saya belum merasa ada gejala. Namun agak was-was sehingga memutuskan untuk tidak ikut Jumatan. Takutnya sudah positif dan bisa nularin ke jamaah sholat Jumat. Namun malamnya tenggorokan kurang nyaman dan mulai batuk dikit-dikit.
Sabtu 26/6, batuknya terus plus agak meriang. Saya mulai minum paracetamol hijau, madu asli dan habatussauda, tablet imboost, dan vit D3. Periksa saturasi O2 dan suhu tubuh, normal. Malamnya hidung mulai agak tersumbat, dan tidur tidak nyenyak.