Arah Baru MUI Terkuak: Shahifah Jadi Pedoman Besar hingga 50 Tahun ke Depan
Tim langit 7
Senin, 24 November 2025 - 09:23 WIB
Wakil Ketua Umum terpilih, KH M Cholil Nafis. Dok: MUI
LANGIT7.ID–Jakarta;Wakil Ketua Umum terpilih, KH M Cholil Nafis arah kebijakan baru Majelis Ulama Indonesia yang dirumuskan dalam dokumen strategis bernama Shahifah Majelis Ulama Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan seusai penutupan Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Sabtu (22/11) malam.
Dia menjelaskan, dokumen ini disebut sebagai mabda asasi—haluan dasar perjuangan MUI—yang akan menjadi pedoman gerak organisasi untuk periode 2025–2030 dan bahkan hingga 50 tahun ke depan.
Kiai Cholil menjelaskan bahwa Shahifah menjadi pedoman menyeluruh yang mempertegas tiga orientasi besar MUI yaitu pertama, perkhidmatan kepada umat, melalui riayah (perlindungan kepada umat), himayah (penjagaan umat), dan taqwiyah (pemberdayaan umat).
Kedua, kemitraan strategis dengan pemerintah, di mana MUI tetap menjadi shadiq al-hukumah (mitra yang terpercaya) dan syarik (partner) dalam mendukung penyelesaian program-program nasional.
Ketiga, kerangka kenegaraan, yang menegaskan bahwa perjuangan MUI berada dalam konteks keindonesiaan sekaligus keterlibatan internasional.
“Semua dibingkai dalam kerangka kenegaraan, disebut dengan imayatul daulah al-khidmah fil kitab al-daulah. Kita bekerja untuk umat dalam bingkai negara, dan tetap terhubung dengan dunia internasional,” ujar Kiai Cholil, dilansir dari situs MUI, Senin (24/11/2025).
Pernyataan itu disampaikan seusai penutupan Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Sabtu (22/11) malam.
Dia menjelaskan, dokumen ini disebut sebagai mabda asasi—haluan dasar perjuangan MUI—yang akan menjadi pedoman gerak organisasi untuk periode 2025–2030 dan bahkan hingga 50 tahun ke depan.
Kiai Cholil menjelaskan bahwa Shahifah menjadi pedoman menyeluruh yang mempertegas tiga orientasi besar MUI yaitu pertama, perkhidmatan kepada umat, melalui riayah (perlindungan kepada umat), himayah (penjagaan umat), dan taqwiyah (pemberdayaan umat).
Kedua, kemitraan strategis dengan pemerintah, di mana MUI tetap menjadi shadiq al-hukumah (mitra yang terpercaya) dan syarik (partner) dalam mendukung penyelesaian program-program nasional.
Ketiga, kerangka kenegaraan, yang menegaskan bahwa perjuangan MUI berada dalam konteks keindonesiaan sekaligus keterlibatan internasional.
“Semua dibingkai dalam kerangka kenegaraan, disebut dengan imayatul daulah al-khidmah fil kitab al-daulah. Kita bekerja untuk umat dalam bingkai negara, dan tetap terhubung dengan dunia internasional,” ujar Kiai Cholil, dilansir dari situs MUI, Senin (24/11/2025).