home masjid

Utsman bin Affan: Konstantin Dibunuh Orang-orang Sisilia

Selasa, 25 November 2025 - 04:15 WIB
Kematian Konstantin adalah kisah klasik ketika rakyat kehilangan kepercayaan pada pemimpinnya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sisilia abad ke-7 tengah dicekam panik. Kabar kekalahan armada Bizantium dari pasukan Muslim di perairan dekat Iskandariah menyebar lebih cepat dari kapal yang mengangkut para prajurit pulang. Konstantin, jenderal yang memimpin pertempuran itu, berlabuh membawa cerita pahit. Namun ia tak menyangka, pelarian itu justru menjadi akhir riwayatnya.

Dalam buku Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan karya Muhammad Husain Haekal (Pustaka Litera AntarNusa), peristiwa ini bersumber dari catatan sejarah penaklukan laut di masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Setelah kapal-kapal Muslim bertempur melawan armada Bizantium yang dipimpin Konstantin, lawan yang tersisa memilih melarikan diri menuju Sisilia. Di sana, Konstantin dihujani tuduhan sebagai penyebab runtuhnya kekuatan gereja dan militer negeri itu.

Anda telah menghancurkan agama Nasrani dan menghabiskan pemimpin-pemimpinnya, demikian kecaman warga Sisilia sebelum mereka menyeretnya ke sebuah pemandian dan menghabisinya. Ketakutan mereka sederhana: jika orang-orang Arab itu datang ke mari, kita tak punya apa lagi untuk mencegahnya. Kepanikan rakyat mengalahkan segala aturan militer. Dan Konstantin tewas bukan sebagai prajurit di medan perang, melainkan sebagai simbol kegagalan.

---

Kekalahan Bizantium dari pasukan Muslim di Laut Tengah menjadi penanda bergesernya pusat kekuasaan regional. Sejarawan Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquests (2007) menilai kemenangan naval armada Muslim merupakan pintu pembuka ekpansi maritim Islam. Sementara sejarawan Andrew Louth dalam The Cambridge History of the Byzantine Empire (2009) menulis bahwa Bizantium dipaksa beradaptasi dengan musuh yang tak lagi hanya menyerang dari darat.

Namun dalam narasi politik internal kekhalifahan, insiden itu juga memantik kecaman terhadap Utsman bin Affan. Haekal mencatat, para penentang Utsman menilai seharusnya Abdullah bin Sa’d — panglima Muslim saat itu — mengejar sisa armada Bizantium hingga tuntas. Karena ia tidak melakukannya, mereka menuduh Utsman melindungi kerabatnya sendiri. Bagi oposisi, setiap kelonggaran politik adalah alasan untuk memperkeras kritik.

Sejarah mencatat, kemenangan sekalipun dapat melahirkan kekalahan baru. Pusat konflik bergeser dari laut menuju kota-kota; dari kapal Bizantium ke ruang-ruang perdebatan di Madinah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya