home masjid

Perintah Tobat dalam Al Quran Bukan Hanya Seruan Spiritual

Jum'at, 28 November 2025 - 05:15 WIB
Dalam deru dunia modern yang makin bising, gagasan taubat terdengar seperti gema lama yang perlahan memudar. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah laju modernisasi yang menekan, konsep tobat muncul kembali sebagai gagasan yang menuntut perhatian. Bukan hanya dalam ruang spiritual, tetapi juga dalam membaca relasi manusia dengan sesamanya dan dengan bumi yang makin menjerit.

Dalam At Taubat Ila Allah, Syaikh Yusuf al-Qaradawi mengulang kembali panggilan klasik itu: bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman. Seruan dari surah An-Nur ayat 31 itu tidak menyisakan pengecualian. Bahkan orang yang telah menaiki tangga ketakwaan pun tetap diminta untuk kembali.

Ayat itu, menurut syarah Al Bashair, ditujukan kepada generasi Mukmin Madinah yang sudah beriman, hijrah, sabar, dan berjihad. Namun perintah tobat tetap datang, seakan menegaskan bahwa iman paling matang pun menyimpan celah. Para ulama suluk membacanya sebagai bukti bahwa tobat adalah kewajiban universal, mencakup para nabi dan wali—bukan karena mereka bergelimang dosa, tetapi karena kedekatan kepada Tuhan menuntut penyucian terus-menerus.

Pembagian tingkat tobat—dosa besar, dosa kecil, syubhat, makruh, hingga kelalaian batin—menunjukkan bahwa manusia selalu berada dalam jarak tertentu dari kesempurnaan. Ada yang bertobat dari tindakannya, ada dari gerak hatinya. Bahkan, seperti dikatakan sebagian sufi, kebaikan seorang abrar bisa menjadi kekurangan bagi para muqarrabin. Karena itu, panggilan tobat bersifat menyeluruh: ia mengajak manusia menyadari titik butanya.

Perspektif ini menjadi menarik saat dipertemukan dengan wacana lingkungan. Para peneliti etika Islam kontemporer seperti Ibrahim Özdemir dan Mawil Izzi Dien menyebut bahwa kerusakan ekologis pada hakikatnya adalah tanda kelalaian kolektif. Manusia melupakan batas, merasa tak perlu kembali, dan tak mengakui kesalahan yang ditorehkannya pada bumi. Dalam bahasa teologi lingkungan, bumi rusak karena manusia berhenti bertobat.

Tobat ekologis—istilah yang diusulkan beberapa sarjana Muslim dalam studi lingkungan modern—menuntut tiga langkah: menyadari dampak dosa ekologis, menghentikan perilaku destruktif, dan memperbaiki kerusakan. Proses ini sejajar dengan definisi tobat nasuha dalam fikih klasik. Restorasi lingkungan, dengan demikian, bukan hanya agenda kebijakan, tetapi praktik batin.

Kisah Adam dalam surah Thaha (121–122) memperkuat ide ini. Adam tergelincir, lalu dipilih kembali setelah ia bertobat. Gerak jatuh dan bangun itu bukan sekadar sejarah manusia pertama, tetapi pola dasar eksistensi manusia: salah, kembali, lalu dibimbing. Dalam konteks ekologis, manusia pun demikian: jatuh dalam eksploitasi, lalu dipanggil untuk bangkit dengan memperbaiki relasi dengan bumi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya